Thursday, November 29, 2007

Perang terbuka produk Budidaya

Tanggal 30 Desember jam 9 pagi waktu Melbourne ( jam 5 WIB), sebuah tayangan di salah satu stasiun swasta nasional memperlihatkan demonstrasi anti Malaysia di depan kedutaan besar Malaysia di Jakarta. Sekitar 1000 orang memprotes keras atas penjiplakan produk budidaya seni Reog Ponorogo oleh Malaysia. Mereka memprotes tindakan pemerintah Malaysia yang lebih suka mengklaim sepihak berbagai produk budidaya negeri Indonesia. Setelah berbagai produk, seperti batik, makanan asli orang Indonesia, lagu-lagu ciptaan anak negeri, artefak budaya, dan terakhir adalah kesenian Reog Ponorogo. Klaim sepihak atas Reog Ponorogo ini bisa dilihat pada situs resmi pemerintah Malaysia (http://www.heritage.gov.my) yang secara nyata menayangkan sebuah tarian mirip Reog yang diberi nama tarian Barongan yang performennya sangat persis dengan penampilan Reog Ponorogo tersebut. Penampilan Reog "aspal" yang paling mencolok adalah tulisan "Malaysia" di jidat sang singa. Labelisasi ini menjadi bola liar yang tak terkendali yang ujung-ujungnya dapat menyulut kebencian dan sentimen berkepanjangan terhadap negeri jiran, Malaysia.

Tarian tersebut diklaim sebagai "Tarian Tradisional Melayu" dan dimodifikasi namanya menjadi Tarian Barongan. Padahal kita tahu sendiri apa definisi Melayu itu? Untuk mendifinisikan sesuatu disebut Melayu, maka harus memenuhi beberapa variablel. Salah satu variabelnya adalah Islam dan semangat etnosentrisme sempit. Menurut Perlembagan Persekutuan dalam perkara 160(2) bahwa yang dapat disebut sebagai orang Melayu adalah mereka yang 1) beragama Islam; 2) berbahasa Melayu; 3) mengamalkan adat-istiadat Melayu; dan 4) lahir sebelum atau pada hari "kemerdekaan" Malaysia baik berada di Semenanjung Malaysia atau di Singapura dan tinggal di kedua wilayah tersebut. Sedangkan Tari Barongan yang ditayangkan dalam situs resmi tersebut tidak menunjukkan sisi keislamannya sebagaimana yang digariskan dalam variabel Melayu. Agaknya hal ini merupakan bentuk kebohongan publik. Untuk menjustifikasi klaim "kemelayuannya", maka diciptakanlah kisah Islam bagi kesenian ini agar terkesan valid. Dalam situs itu disebutkan :

"Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor."

Mencermati semakin memanasnya suhu sosial politik Indonesia dan Malaysia, agaknya kedua negeri jiran ini memang sedang terperangkap dalam perang terbuka atas klaim berbagai produk budidaya masyarakat nusantara. Kasus terakhir ini merupakan rentetan fluktuatif yang menghiasi hubungan dua negeri jiran ini. Sudah tak terhitung lagi letupan sentimen anti Malaysia dikumandangkan oleh masyarakat Indonesia. Perasaan sakit hati masyarakat Indonesia adalah pada kenyataan bahwa secara tidak jujur dan tanpa "unggah-ungguh" layaknya bangsa Timur yang memiliki adab sopan santun dan agama, Malaysia seringkali menghapus jejak sejarah dan mengklaim berbagai produk budidaya yang ada di Indonesia sebagai apa yang dimilikinya. Memang betul diakui bahwa ratusan tahun silam terajadi proses imigrasi manusia dan budaya dari berbagai pulau di nusantara ke semanjung Malaysia. Diantara mereka adalah imigran yang berasal dari berbagai pula yang terletak di gugusan pula-pulau yang sekarang terletak dalam wilayah Indonesia. Klaim Malaysia itu didasarkan pada keyakinannya bahwa produk budidaya itu sudah ada sebelum terbentuknya negeri bernama Indonesia; sedangkan Malaysia adalah bagian dari nusantara itu. Andaikata demikian halnya, mengapakah Malaysia tidak mencantumkan asal suku atau pulau dimana sebuah produk budidaya dihasilkan?. Kalau memang reog Ponorogo berasal dari daerah Ponorogo Jawa Timur, maka sebutkanlah kenyataan ini tanpa harus menghapus rekam jejak sejarah. Hal ini sangat menyakitkan dan menusuk perasaan kebanyakan manusia Indonesia. Disamping itu hal ini merupakan bentuk plagiarisme budaya yang sangat parah.

Perang terbuka atas produk budidaya ini ternyata terjadi pula di dunia maya. Perang blog pun tak terhindarkan. Fenomena ini bisa dilihat di dua website yang mewakili weltanschaung yang berbeda. Sila tengok perbezaan kita Pak Cik dan Mak Cik:

http://ihateindon. blogspot. com/
http://www.malingsi a.com

Ada lagi sebuah berita (dari Kantor Berita Bernama) tentang demonstrasi besar2an di Jakarta yang mengusung tema anti-malaysia. Dalam berita tersebut dikisahkan betapa hebatnya sang Duta Besar Malaysia untuk RI, Datuk Zainal Abidin Mohamed Zain, yang mampu membubarkan (bahasa Malaysianya: menyuraikan) demonstran hanya dalam waktu TIGA MENIT SAJA. Dan dengan HANYA 50 KATA SAJA sang Datuk bisa meredam amarah para demonstran di Jakarta kemarin. Seolah2 sang Datuk memang sakti mandraguna bisa membubarkan 1000 manusia yang lagi marah dan siap meluluhlantakkan Malaysia. 1000 orang Indonesia bertekuk lutut di bawah komando sang Datuk. Simak beritanya di sini.

"Kemlinthinya" Malaysia merupakan proses panjang atas ketidakberdayaan kita menghadapi krisis multidimensi. Krisis multideminsi ini telah berimbas pada pengikisan rasa percaya diri kita yang paling esensi. Salah satu krisis yang paling telak menghantam struktur masyarakat kita adalah krisis perut. Krisis perut telah mampu menggerus akal sehat dan hati nurani manusia kebanyakan. Korupsi yang merajalela dan budaya amuk yang sudah tertanam dalam setiap rentak perilaku kita adalah berawal dari krisis ini. Agama manapun tak akan bisa menentramkan dan meluruskan jalan umat jika krisis perut belum pula disentuh. Manusia Indonesia lebih terjerat untuk memikirkan perutnya sendiri dibanding melihat kekayaan yang ada dalam genggam tangannya yang sejatinya bisa digunakan untuk menyejahterakan semua anak negeri.

Krisis perut berimbas kepada krisis budaya yang diakibatkan hilangnya jati diri kita atas nama "impian semusim". Jenuh dan jengah dengan kesusahan dan kelaparan yang terjadi saban harinya, masyarakat kita butuh arena pelarian dengan menikmati banjir kapitalisme dan nafsu rendahan yang dibawa oleh berbagai media massa melalui tayangan dan lenggak-lenggok yang tak lagi menghargai adat ketimuran. Hampir semua tayangan di pentas layar kaca lebih menggambarkan budaya lain yang tidak membangkitkan kesadaran kita untuk bangkit dan kreatif. Media massa jarang memperkenalkan nuansa "cintaku negeriku" yang "membabar" siapa jati diri kita dan apa yang kita miliki. Kalau toh ada, paling hanya ditempatkan pada pojok halaman yang jarang disorot mata atau di sudut jam tayang yang tak banyak lagi penontonnya. Walhasil, kita jadi terlena bahwa kekayaan yang ada di genggaman tangan kita telah "dicuri" secara biadab tanpa mengindahkan etika bangsa yang pernah bercengkrama di atas lintas "titian muhibah".

Hilangnya rasa percaya diri kita sudah begitu kompleks hingga menghantui kita-kita yang tinggal di tanah seberang sekalipun. Ketidakpercayaan diri berimbas kepada hilangnya jiwa nasionalisme kita; hilangnya kebanggaan sebagai orang Indonesia yang memiliki memori kolektif tentang Indonesia. Seberapa tingginya kita kenalkan Indonesia kepada orang non Indonesia? Seberapa tingginya kita perkenalkan Indonesia kepada anak-anak kita? seberapa tingginya kita cinta terhadap produk Indonesia? Jangan terkejut kalau kita jumpai anak-anak Indonesia yang tak lagi "ngeh" diajak berbicara bahasa Indonesia; dan jangan heran pula kalau kita bertemu anak Indonesia yang tak lagi tahu asal muasal dirinya. Jangan heran pula kalau sebagian kita lebih bangga memakai produk-produk asing dibanding hasil kreativitas dan cucuran keringat bangsa sendiri. Kita mungkin harus malu bila bersanding dengan mereka yang berasal dari --- hanya contoh saja-- bangsa Yunani, India, dan China. Betapa mereka masih begitu lekat terhadap jati diri dan asal mausul mereka. Betapa mereka masih setia untuk mewariskan jati dirinya kepada anak cucu mereka. Dus, jangan salahkan kalau ternyata bangsa lain lebih mampu mendapatkan manfaat dari semua kekayaan yang ada dalam genggam tangan kita karena kita tak lagi mau dan mampu menghargai dan menjaganya.

Melbourne, 30 Desember 2007

Tuesday, November 27, 2007

Mengiring Kawan Berhaji


Dengan muka berseri Junaedy Anasril (43 tahun) mantap melangkah turun dari mobilnya. Disamping kanan kirinya adalah Wanny, sang istri tercinta, dan Felicity, sang anak gadis semata wayangnya. Di belakang terlihat bapak mertuanya dan ayah angkatnya, Pak Anas. Junaedy dikenal oleh kawan-kawannya dengan nama John. Nama ini bukan berarti Junaedy lebih suka dilabeli sesuatu yang berbau Barat atau Australia. Itu hanyalah untuk memudahkan panggilan saja. Hari ini John sudah mantap untuk menjadi tamu Allah. Kemantapan hati John bukanlah sebuah hasil dari proses instan.

Sekedar ilustrasi latar belakang John, si orang Padang ini. Dia datang ke Melbourne ketika usianya baru menginjak 16 tahun. Kedatangannya karena dia ingin mengikuti pamannya, yang sekarang jadi ayah angkatnya, Pak Nas. John sempat tinggal lama di sebuah daerah yang Bernama Laverton. Pamannya dikenal sebagai salah seorang sesepuh orang awak di ranah Melbourne. Saat itu John yang hanya tamat SMP sangat mendambakan sebuah kehidupan yang sukses; sebuah kehidupan yang mampu merubah nasib buruknya. Dia ingin meninggalkan aroma ketidaktentuan hidup di tanahnya sendiri. John ingin menggapai bintang di tanah rantau. Disamping itu, sebagai orang Minang, John tak layak untuk berdiam di kampung menjadi bujang lapuak! Dia tak tanggung-tanggung merantau ke Melbourne. Sayang, pergaulan yang salah membawanya ke sebuah arena kelam yang menyeretnya berkubang di dalam lumpur dosa. John yang lugu, saat itu sudah terbiasa menikmati arus dunia gemerlap yang penuh hiasan maksiat. Barang haram dan judi adalah hiburan tetap selama akhir pekan. John mengaku bahwa dulu dia terbiasa dengan "gelek", istilah untuk obat-obat terlarang.

Meski menikmati kebebasan di tanah Kanguru ini, John adalah pekerja ulet yang bisa mengumpulkan banyak uang. Alhamdulillah, di Melbourne inilah John bertemu Wanny dan akhirnya memutuskan untuk menikah pada tahun 1998. Bersama sang istri tercinta, mereka akhirnya mampu membeli sebuah rumah di daerah Hallam. John yang pekerja keras di sebuah pabrik pintu dan jendela tak menyadari bahwa suatu hari dia harus mengalami kecelakaan permanen yang merubah haluan hidupnya, yakni kecelakaan saraf pinggang yang membuatnya tak lagi bisa bekerja dengan baik. John harus rela berhenti bekerja dan menjadi penjaga anak dan pengangguran di rumah. Hal ini jelas membuat John semakin kalut dan sensitif. Tekanan psikologis dan psikis yang membuatnya mudah marah. Pertengkaran demi pertengkaran seakan menjadi bumbu pedas yang menghiasi rongga rumahnya. Tak ada hari tanpa sumpah serapah bila sang penyakit sudah mulai menghujam di pinggangnya. Wanny dan Feli merasa hidup bak di dalam neraka.

Di saat dia dibelenggu kekalutan jiwa, di awal tahun 2005, seorang sahabat karibnya, Ayman, mengajaknya untuk menyambangi masjid. Ayman bilang bahwa ke masjid itu sudah jamak bagi orang yang mengaku Islam. Ayman adalah sahabat John sesama "preman" pada masa mudanya. Mereka berdua terbiasa menikmati dugem di akhir pekan. Gaji satu minggu bisa saja ludes di meja judi ataupun sekedar menikmati "gelek". Namun Ayman sudah berubah. Ayman yang sekarang berbeda dengan Ayman 10 tahun yang lalu. Ia sudah menemukan apa yang menjadi tujuan hakiki hidupnya. Masjid adalah tempat dia menandaskan semua kepasrahan dan kebahagiaan spiritual.

Walhasil, John tergerak untuk datang ke masjid dan berkenalan dengan beberapa jamaah di sana. Awal dia datang ke masjid, aku masih ingat, dia hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek. Tak disangka dan diduga, John tertarik pada kesejukan hawa masjid yang dipenuhi dengan suasana keakraban dan persehabatan. Hawa masjid yang memancarkan cahaya Allah dan ketenangan batiniah yang tak terhingga. John mulai tertarik untuk membuka lagi kitab suci yang lama tak disentuhnya. Dia mulai lagi benamkan jidatnya di atas tikar sembahyangan sebagai pengakuannya atas semua hina dan khilaf di hadapan Rabb Yang Maha Agung. Kesungguhan John berbuah. Dia tak lagi malu memakai kopyah bila ke masjid, tak malu kalau diminta azan di masjid, dan tak malu ketika diminta melantunkan ayat-ayat Qur'an. John menjadi sosok lain yang mampu membalilk sejarah hidupnya. Hanya nur Allah yang mampu menerangi hatinya dan merontokkan semua jelaga dosa yang sudah sekian lama menempel.

Suatu hari John mengutarakan keinginannya untuk pergi haji. Dia ragu bahwa ilmunya tak seberapa dibanding kawan-kawan lainnya. Namun dia ingin sekali pergi ke tanah suci. Bahkan dia dengan sungguh-sungguh berkata kalau lah dia tak jadi berhaji, maka duit yang dia tabung akan disumbangkan kepada orang-orang miskin di kampungnya. Demikianlah John "baru" ini bertekad. Aku bilang kepadanya, "Kalau lah Pak John mantap dengan keputusan itu, tak usahlah banyak berfikir. Insya Allah, Pak John akan mendapatkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup pak John. Pak John pergi sebagai tamu Allah". John pun terdiam. Seminggu kemudian dia datang lagi kepadaku dengan membawa berita bahwa dia sudah mendaftarkan diri untuk pergi haji tanggal 28 Nopember, hari Rabu. Sebuah berita yang membahagiaakan perasaanku. Selama dua hari kami berdiskusi tentang makna umrah dan haji serta manasik yang mengiringinya. John mendengarkan dan merekam dengan seksama. Bahkan dia hafalkan ucapan talbiyah "Labbaika allahumma labbaik....". Semangat betul nih John.

Dan hari ini pun tiba. Jam 10 pagi aku bertemu lagi dengan dia di bandara Tulamarin. Kulihat dia memakai setelan putih-putih. Baju koko dan celana putih serta songkok putih menghias kepalanya yang sudah dicukur rapi. John melambaikan tangannya, terlihat senyum cerahnya menyambutku dan kawan-kawan lainnya. Saat itu aku bersama Pak Dede, Ria, Mei, dan Imam bermaksud melepas dan mendoakan kepergiannya. Dia ungkapkan cita-citanya bahwa dia ingin menjadi haji mabrur sepulang dari haji dan ingin menggapai berkah hidupnya. Sebelum kami mengantar John ke gerbang doane, kami berlama-lama mengawetkan moment kebersamaan dengan menyeruput kopi dan menikmati donat di sebuah kafe di salah satu sudut di bandara Tulamarin. Namun, kami tak mampu mencegah moment kebersamaan itu beranjak meninggalkan kita karena John harus segara pamit berangkat. John harus take off menaiki SQ ke Singapura jam 11am, kemudian esok harinya jam 1pm waktu Singapura dia bertolak ke Jedah bersama dengan rombongan haji lainnya. Wajah Wanny nampak kuyu dan kelopak matanya tak mampu menahan bulir air mata ketika detik perpisahan harus muncul. Kami pun harus mengantarkan John di depan pintu keberangkatan yang dijaga oleh dua petugas bandara. Kami berpamitan. John menangis sesenggukan ketika memeluk istri tercinta. Feli tak mau dipeluk ayahnya. Feli pun ikut menangis haru melepas kepergian ayahnya. Hanya saling maaf memaafkan saja yang bisa kami ungkapkan dan doa agar perjalanan John selamat dan berkah hingga tujuannya. Yah, kami semua berharap berjumpa lagi untuk mendengar kisah selanjutnya di bulan Desember akhir. Semoga Allah menemanimu John!
Allahummaj 'alhu khajjan mabruuran!

Melbourne, 28 Nopember 2007

Monday, November 19, 2007

The Prayer


The Prayer

Celine Dion dan Andrea Bocelli





Pray you’ll be our eyes,
and watch us where we go
And help us to be wise,
in times when we don’t know
Let this be our prayer,
when we lose our way
Lead us to a place,
guide us with your grace
To a place where we’ll be safe.
La luce che tu dai
I pray we’ll find your light
Nel cuore resterà
And hold it in our hearts
A ricordarci che
When stars go out each night
L’eterna stella sei
Nella mia preghiera
Let this be our prayer
Quanta fede c’è
When shadows fill our day
Lead us to a place
Guide us with your grace
Give us faith so we’ll be safe

Sognamo un mondo senza più violenza
Un mondo di giustizia e di speranza
Ognuno dia la mano al suo vicino
Simbolo di pace e di fraternità

La forza che ci dai
We ask that life be kind
È il desiderio che
And watch us from above
Ognuno trovi amore
We hope each soul will find
Intorno e dentro a sè
Another soul to love
Let this be our prayer
Let this be our prayer
Just like every child
Just like every child

Need to find a place,
guide us with your grace
Give us faith so we’ll be safe
E la fede che
Hai acceso in noi
Sento che ci salverà
--

Watch at :
http://www.youtube.com/watch?v=WK9nt1NF7Nw
http://www.youtube.com/watch?v=NmscFwj22vg

Till We Ain't Strangers Anymore


~Till We Ain't Strangers Anymore (with Leann Rimes)~

It might be hard to be lovers
But its harder to be friends
Baby pull down the covers
Its time you let me in
Maybe light a couple candles
Ill just go ahead and lock the door

If you just talk to me baby
Till we ain't strangers anymore

Lay your head on my pillow
I sit beside you on the bed
Don't you think its time we say
Some things we haven't said
It ain't too late to get back to that place
Back to where, we thought it was before
Why don't you look at me
Till we ain't strangers anymore

Sometimes its hard to love me
Sometimes its hard to love you too
I know its hard believing
That love can pull us through
It would be so easy
To live your life

With one foot out the door
Just hold me baby
Till we ain't strangers anymore

[Solo]

Its hard to find forgiveness
When we just turn off the lights
Its hard to say you're sorry
When you cant tell wrong from right
It would be so easy
To spend your whole damn life
Just keeping score
So lets get down to it baby
There ain't no need to lie

Tell me who you think you see
When you look into my eyes
Lets put our two hearts back together
And we'll leave the broken pieces on the floor
Make love with me baby
Till we ain't strangers anymore

We're not strangers anymore
We're not strangers
We're not strangers anymore
------
For your own entertainment, please watch at
http://www.youtube.com/watch?v=8GP7FY_IZmU

Monday, November 05, 2007

Smile by Nat 'King' Cole


Smile, though your heart is aching
Smile, even though it's breaking
When there are clouds in the sky
You'll get by...

If you smileWith your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You'll find that life is still worthwhile if you'll just...
Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That's the time you must keep on trying
Smile, what's the use of crying
You'll find that life is still worthwhile
If you'll just...
Smile, though your heart is aching
Smile, even though it's breaking
When there are clouds in the sky
You'll get by...

If you smile
Through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You'll find that life is still worthwhile
If you'll just Smile...

That's the time you must keep on trying
Smile, what's the use of crying
You'll find that life is still worthwhile
If you'll just Smile

Silahkan tonton di:
http://www.youtube.com/watch?v=a5pnDDDzpqg