Friday, December 29, 2006

Kedekatan

Tuhan itu Maha Dekat. Bahkan dalam salah satu sabdanya dikatakan bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat leher manusia. Kedekatan Tuhan sebagai postulat yang tak bisa dibantah merupakan dasar teologis yang harus kita terima. Namun kedekatan-Nya tidak bisa hanya dipahami "taken for granted" tanpa upaya menata nalar akan keberadaan kita dan keberadaan Tuhan. Andai kita ingin mendekatinya, maka ada sarana yang membutuhkan simbol-simbul interaktif.

Di sinilah Tuhan Maha Tahu kemampuan makhluk-Nya. Tuhan yakin bahwa hamba-Nya tak akan mampu menggapai ufuk nalar teologisnya bermesraan dengan Sang Maha andai menafikan simbol. Qurban yang secara bahasa bermakna pendekatan merupakan simbolisasi pendekatan seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Kita yakin bahwa Tuhan tak butuh makan, karena Dia adalah Yang Maha Memberi makan. Tuhan tak perlu pertolongan dan suguhan kita. Tuhan tidak rakus dan tidak pernah kurang apapun. Namun simbolisasi qurban merupakan upaya bijak Tuhan agar manusia mau tunduk atas perintah-Nya. Dengan melaksanakan qurban, maka kita dibangkitkan kesadaran religius akan keberadaan Tuhan Yang Maha Memerintah.

Dahulu orang berqurban dengan menyembelih binatang piaraannya dan dagingnya ditaruh di depan berhala-berhala batu. Upaya ini merupakan bentuk ekspresi komunikasi manusia untuk mengakui keberadaan yang maha segala maha. Kemudian Islam membawa revolusi dan dekonstruksi makna simbol. Qurban bukan lagi dilihat dalam bentuk sajian. Namun qurban dinilai berdasarkan niat dan tujuan si pelaku qurban. Qurban dimaknai melalui ekspresi sarat pengabdian sosial. Daging yang dulu hanya diperuntukan bagi benda-benda mati yang diberhalakan. Dalam perspektif Islam, daging qurban diberikan kepada fakir dan miskin. Inilah revolusi sosial Islam tanpa menghancurkan tradisi qurban itu sendiri. Motivasi qurban yang dibungkus keimanan dan ketakwaan adalah esensi qurban itu sendiri.

Hewan qurban adalah simbol belaka agar kita lebih mendekat kepada Sang Khalik. Bagi kita yang tak mampu untuk menyembelih hewan qurban, maka lakukan qurban dengan cara apapun yang mampu mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan meninggikan kesalehan sosial kita.

Melbourne, 30 Desember 2006

Thursday, December 21, 2006

Mak

Mak ...
Rambute wis akeh sing putih
Uwane ngubengi sirah
Kulite rai wis pating tekuk
Pipine tambah kempot
Sering mriyang katisan
Ayune ilang
Tapi kebecikane Mak belih bisa tak bayar

Mak..
Sampean dhaning tambah gering
Awake tambah kuru
Akeh pikiran yah Mak?
Mikiri apa?
Mikiri umur?
Mikiri Bapak sing wis ora ana?
Mikiri donya sing wis ora nggenah
Udan salah mangsa
Lenga sing larang
Beras sing angel dituku
Apa mikiri anak-anak sing kangelan diatur?

Aku kemutan Mak
Mbiyen nalikane Sampean tangi jam 2 bengi
Maring pawon tumandang gawe
Esuk jam 7, Sampean lunga maring pasar
Dodolan sega lengko karo Kang Suwargi Bapak
Kadang rame lan kadang sepi
Ning Sampean karo Bapak belih pernah kesel

Mak...
Saiki Bapak wis ora ana
Sampean mestine ngrasa sepi
Bocah-bocah wis gedhe kabeh
Dina tuwa arep apa?
Moga tambah perek karo Sing Gawe Urip
Dongakna Bae anak-anake Sampean
Pangapurane sing akeh yah Mak
Inyong pengin nggawe Mak Bungah

Melbourne, 22 Desember 2006

Tuesday, December 19, 2006

Naif

Menjelang natal, suasana kampus semakin sepi saja. Kantin yang biasa dijejali banyak mahasiswa terlihat lenggang bak kampus mati. Pohon natal berkerlip di balik etalase student shop terkesan tak peduli dengan suasana ini. Christmas day, season greetings, new year, shoppings dan seabreg simbol-simbol kapitalis tiba-tiba menyeruak di depan mata. Esensi natal sebagai kelahiran Sang Pembawa Kasih dan Cinta seakan terkubur oleh tradisi konsumerisme brutal. Tahun baru sebagai tahun refleksi menjadi begitu naif karena dijenuhi dengan hingar bingar bahagia semu.

Bisakah kita meloncati libido materialisme, kemudian berkontemplasi dalam kedamaian spiritual? Lepas dari simbolisme yang penuh perangkap. Persetan dengan pelencengan makna hidup ini. Kasihan orang-orang papa yang harus menjadi batu-batu kecil yang terus dihempas oleh gelombang egoisme. Mereka dimarjinalkan oleh gaduh dunia yang dihiasi oleh genderang individualisme. Hilangnya empati dan kepedulian sosial merupakan akibat dari semangat egoisme yang menggelora. Semakin runtuhkah hakikat kemanusiaan seorang manusia? Sehingga sering manusia tidak dimanusiakan oleh manusia lain? Bahkan dinistakan dan dihewankan. Bila perlu menjadi daging korban bagi pemangsa-pemangsa culas.

Pemangsa-pemangsa ini sering memakai baju rohaniawan, baju politisi, baju orang bijak, dan baju dewa penolong yang mengaburkan pandangan objektif orang-orang papa marjinal ini. Mereka memanfaatkan kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan keputusasaan para papa. Apa yang bisa membebaskan mereka dari cengkeraman para pemangsa? Kenapa citra agama begitu naif di tangan para pemeluknya? Kemana jargon "Tuhan cinta manusia", ketika orang-orang kaya justru berkubang dalam kepuasaan indivualismenya? Layaklah ketika Tuhan memperlihatkan kuasanya untuk meluluhlantakan semua berhala yang mereka sembah selama ini.

Meblbourne 20 Desember 2006

Sunday, December 17, 2006

Haji

Waktu merambati jalan nafasku.
Melilit nasibku dan membuhul ayun langkahku.
Waktu mengantarku dengan setia menelusuri lorong panjang
yang tak kuketahui tapal batasnya.
Aku diantar waktu untuk membuka banyak gerbang berliku.
Ini kali aku diantar untuk melewati gerbang Zulhijjah.
Ini kali aku diajak untuk menikmati taman Zulhijjah.
Di sekian jengkal nafasku.
Aku lihat gerbang Zuhijjah bertengger kokoh
tak bergeming dalam terpaan kadar Ilahi.

Tinggal sejengkal aku kan sampai ke depan gerbang itu.
Ku lihat banyak sahabat yang hiruk pikuk berlari mendekatinya.
Mereka dibalut kain ihram dan bau harum surgawi.
Bergegas mereka alunkan "Labbaiiik Allahumma labbaiik..."
Aku penuhi panggilan-Mu Ya Rabb...
Terdengar suara menggema di balik gerbang yang tinggal sejengkal itu.
"Wahai tamuku, datanglah, masuklah, nikmatilah cawan-cawan pahalaku..."
"Wahai tamuku, campakkan semua rengkuh setan dan ikatan nafsu dalam dirimu."
"Lebur dirimu dalam pusaran tawaf
dan lesatkan jiwa kalian di antara Shafa dan Marwa.
agar kalian moksa menggapai nirwana"

Malam ini aku berjalan bersama mereka.
Namun pakaianku bukanlah ihram seperti mereka.
Aku masih dibalut pakaian biasa.
Aku hanya berkata, "Kawan, kalian akan menikmati ruang Zulhijjah dengan manasik".
"Sedangkan aku, akan menikmatinya di ruang sunyi yang dicumbu oleh tarian Rumi".
Semoga kita bertemu di sana di depan gerbang Zulhijjah.
Kulihat kawan-kawanku mulai bergegas kencang
Melesat bagai kilat berhambur menuju gerbang Zulhijjah
dimana Ilahi membawanya menari mengitari kuasa-Nya
dan menapaki sejarah kasih umat manusia.


Melbourne, 18 Desember 2006

Wednesday, December 13, 2006

Pisah


Tiga hari lalu aku dapat email dari Mbak Georgi bahwa dia harus meninggalkan Monash karena akan mengisi jabatan professor di Universitas Ballarat. Aku tersentak dengan hal ini. Ada perasaan bangga dan sedih menyatu yang tiba-tiba menyergap perasaanku. Bangga karena Mbak Georgi dipromosikan menjadi professor dalam bidang sosiologi pendidikan, dan sedih karena harus berpisah dengan Mbak Georgi yang selama ini banyak membantu dalam proses kandidatur.

Langsung saja aku jawab email dia seperti ini, " I read a sad email from you today, as you're leaving Monash..." Wuah sok melankolis! Tidak... tidak melankolis. Aku merasa sedih saja kalau orang-orang baik kemudian semakin berkurang dari garis edar hidupku. Ada kekhawatiran bahwa orang-orang baik akan menjadi makhluk langka di sekitarku. Aku minta kesediaannya untuk meluangkan waktu santainya dan minum kopi jam 10.30 pagi hari Rabu.

***

Hari ini aku janjian dengan Mbak Georgi untuk ngopi di Den, sebuah cafe mungil di bawah perpustakaan. Jam 10.30 pagi, aku bergegas ke kantornya di lantai tiga. Aku lihat pintu kantor ternganga sedikit. Sepertinya Mbak Georgi sudah menungguku. Aku ketuk pelan karena takut mengejutkan dia. Tak ada jawaban, aku ketuk sekali lagi. Dan suara Mbak Georgi pun terdengar, "Come in!!! Ah you're so quite!!. Let's have some coffee..." Aku lihat Mbak Georgi mengenakan kaus hitam dibungkus blazer warna hitam pula. Di lehernya terlilit kain syal warna violet. Aku mengangguk.

Kami berjalan bareng dari gedung nomo 6 menuju ke Den. Aku bilang ke Mbak Georgi kalau aku yang nraktir kopi. Dia pesan kopi late hitam, sedangkan aku pesan kopi late biasa. Kami duduk di luar cafe di deretan kursi dan meja yang berjajar sepanjang koridor. Mbak Georgi bercerita banyak mengenai hasil-hasil risetnya yang berkaitan dengan diaspora masyarakat Yunani di Australia. Ternyata masyarakat Yunani memiliki keterikatan luar biasa dengan tanah kelahirannya di Athena sana. Bahkan kebudayaan dan bahasa Yunani ditularkan secara setia oleh komunitas ini kepada generasi-generasi yang lahir di Australia. Sehingga identitas bangsa Yunani terjaga. Mereka terbiasa bercakap dalam bahasa Yunani di rumah dan bahasa Inggris di arena publik.

Melalui keluarga, sekolah, media massa, kebijakan politik, dan peran-peran tokoh sentral keturunan Yunani, bangsa ini berusaha menjaga siapa diri mereka sesungguhnya. Aku jadi teringat orang-orang Indonesia yang kebanyakan tinggal di benua ini. Orang Indonesia lebih suka berbicara dalam bahasa Inggris dengan anak-anaknya. Bahkan suatu ketika aku pernah bertemu dengan seorang ibu-ibu paruh baya yang bercakap dengan bahasa Indonesia namun dimedokin ala orang bule. Tak heran generasi muda Indonesia yang lahir di Australia sudah terlalu kaku, kalau tak boleh dikatakan tidak bisa, untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Inikah sebuah fenomena bangsa inferior yang terlalu cepat melukar jati dirinya. Atau mungkin aku salah menilai. Ah, negeriku sayang, negeriku malang!

Melbourne 13 Desember 2006

Wednesday, December 06, 2006

Studi


Akhir November lalu di suatu siang, aku hampir tak percaya ketika pembimbingku bilang bahwa aku dinyatakan lulus ujian doktorat! Sekian detik aku terdiam dan ada rasa haru yang tak terhingga atas nikmat yang tak terduga ini. Pembimbingku, Mbak Georgi, langsung menyalamiku, "Selamat Pak Doktor Suparto!" Senyum Mbak Georgi mengembang manis. Dia bangga bahwa salah seorang muridnya berhasil. Ntah berapa banyak murid-muridnya yang sudah menggondol doktor di bawah bimbingan dia.

Ada rasa malu yang tak terhingga menyergapi diriku ketika dipanggil dengan sebuah gelar baru. Rasanya aku tak pantas menyandang titel itu. Aku masih merasa bodoh dan bebal. Bahkan sepertinya titel akademik ini makin menghakimiku untuk menyodorkan bukti-bukti intelektualitas akademis yang aku rasa masih cetek-cetek amat. Aku jawab kepada Mbak Georgi, "Actually I am quite shy by this. I don't deserve to put a "doctor" before my name!". Kata-kataku tulus dan tak bermaksud menutupi ekspresi semuku. Aku memang masih belum layak; aku merasa bodoh dan dungu; aku malu. Mbak Georgi hanya tertawa terbahak, "C'mon Suparto! Yes you do!"

Alhamdulillah Ya Allah!. Desir nafasku menyentil ceruk hati yang paling dalam dan menggetarkan bahana terima kasih yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku biarkan ruang hatiku diisi nyanyian syukur dan tarian zikir yang mendayu dalam dekapan hangat musim semi. Ternyata itu bukanlah satu-satunya berita terbaik yang aku terima hari itu. Aku ternyata diberi kesempatan untuk melakukan penelitian lagi untuk program post-doctoralku. Aku dapat beasiswa lagi! Allah Akbar!! Begitu agung nikmat-Mu ini. Aku sadar bahwa nikmat-Mu itu lebih agung dari alam maya ini. Bahkan pengabdianku pada-Mu tak seimbang dengan karunia-Mu hari ini. Semoga Engkau selalu membimbingku. Aku yakin Engkau selalu bersamaku dan mendengar pintaku. Cinta, sayang, dan kasih-Mu adalah lautan dan hamparan panorama nikmat yang tak bosan aku reguk.

Melbourne, 7 Desember 2006.

AA Gym


Kasus nikah lagi AA Gym adalah hal biasa. Namun menjadi luar biasa karena AA milik banyak orang, AA terkenal, dan AA memang da'i kondang (beda dengan saya yang da'i kandang). Di sinilah publik yang merasa memiliki langsung bereaksi. Coba kalau yang nikah lagi itu tetangga saya yang kuli bangunan dan nggak dikenal banyak orang, tak akan ada gaung sumir bergema dimana-mana. Paling juga cuma riak kecil dalam radius sekian meter.

Saya tahu bahwa banyak kaum perempuan yang merasa teriris hatinya melihat AA nikah lagi. AA dipandang oleh banyak perempuan menodai komitmen AA membangun keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Namun ada juga yang memandang bahwa pernikahan AA yang kedua ini untuk menguji konsep "manajemen qalbu" yang AA ajarkan selama ini. Apakah qalbu bisa disentuh oleh menejemen yang adil? Ataukah ini untuk menentang kecenderungan nurani yang biasa bergejolak, melayang, dan bahkan menghempas tanpa kendali? Saya berharap AA bisa membuktikan pada orang banyak bahwa qalbu AA bisa merangkul dua istri di rumah. Mungin nanti AA bisa membuat konsep baru mengenai "manajemen cinta" untuk meyakinkan para kaum hawa bahwa cinta adalah sesuatu yang ajaib dan tak pernah surut meski usia semakin beringsut. Cinta adalah oksymoron yang menggebu yang merengkuh damai dalam ikatan jiwa.

Kembali ke AA yang memang terkenal itu dan menjadi milik banyak orang. Keputusan AA menikah lagi pastilah sudah ditimbang matang-matang. Satu hal yang tak bisa kita pungkiri adalah kasus AA bakalan menjadi komoditas politik sementara pihak untuk mengambil keuntungan dari suara mayoritas perempuan. Banyak politisi serasa menemukan ide untuk berbicara mengenai perjuangan dan perlindungan hak perempuan. Tak kurang pula pemerintah berencana merevisi UU perkawinan yang mengatur larangan beristri lagi. Bak pahlawan kesiangan, mereka akan berkoar tentang ganyang poligamier! Saya yakin diantara mereka yang menentang pasti ada yang didukung oleh motivasi moral.

Apapun dalihnya, publik figur, seperti AA, memang riskan menentukan sikap. Bak layang-layang. Semakin tinggi, semakin kencang angin berliuk dan salah-salah "gusrak" layang-layang nyangkut di tiang listrik! AA pasti tahu resiko yang bakal dihadapinya. Namun jangan sampai kita berkesimpulan bahwa ada yang salah dalam ajaran Islam. Dus, bisakah kita mencoba untuk menghargai bahwa apa yang dilakukan AA saat ini hanyalah sebuah pilihan. Pilihan bisa saja benar dan bisa saja salah. Tergantung Sang Korektor Mutlak yang akan menilaianya. Kita do'akan saja agar AA dan kedua istri dan anak-anaknya bisa menikmati samudera rahmat-Nya. Semoga AA bisa adil. Pasti Pak Puspo yang dari Solo saat ini sedang tersenyum riang karena calon anggota baru bakalan bergabung untuk menerima award. Selamat menyantap ayam bakar A...

Melbourne, 6 Desember 2006

Monday, December 04, 2006

Curiga


Senin sore jam 2 aku sudah diingatkan untuk datang tepat jam 6 sore di rumah Ibu Centil. Katanya si Abi, anaknya yang nakal banget, akan berulang tahun yang kelima. Aku jawab saja, "Insya Allah Bu". "Awas lho kalau nggak datang karena saya perlu Mbah memberikan do'a dalam acara ini!!". " Saya tidak mengundang banyak orang, karena tahu sendiri nafas saya bisa putus kalau harus menjamu sekian banyak orang", katanya sambil berapi-api. Aku bayangin kalau dia nyerocos sambil monyongin mulutnya. Aku tahu Ibu Centil itu memang suka centil. Dia sering bercerita kalau dulu ketika mudanya, dia digandrungi banyak pemuda. Dari yang jalan telanjang kaki hingga mereka yang mengendarai merci. Untunglah aku tidak bertanya lebih jauh, apakah diantara mereka ada duda beranak tiga yang naksir dia?

Tepat jam 5 sore aku bergegas dari kampus ke rumah Pak Haji. Sudah satu bulan aku tinggal dengan keluarga Pak Haji yang sederhana ini. Mentari begitu menyengat dan menggigit kulit gelapku. Wah, bisa lek-lok dengkul nih kalau harus jalan sejauh satu kilo dari kampus ke rumah dengan cuaca yang begitu panas. Tak apalah, aku bergegas mengayunkan langkahku sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Aku sendiri heran. Aku kan tidak bisa menyanyi kok memaksa diri untuk menyanyi. Apa saja yang melintas dibenak pikiranku, aku jadikan nyanyian. Aku tak peduli orang-orang yang berlalu lalang dan berpapasan denganku mendengar nyanyi kacau itu. Intinya aku ingin menghibur diri sendiri.

Tak terasa perjalanan satu kilo sudah terlampaui. Sesampai di rumah jam menunjukan 5.30 sore. Ah, aku harus mandi dan shalat terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Ibu Centil. Oh iya, aku lupa memperkenalkan siapa itu Ibu Centil ini. Dia kawan baikku dan kawan baik banyak orang. Hobinya menari dan menyanyi. Satu hal yang tidak bisa lepas dari kebiasaan dia adalah "nyerocos" apa saja dan merasa suaranya yang paling bagus. Aku harus menghargai daya kreativitas dia; meski terkadang sumbang di telinga. Kelebihan lain yang dimilikinya adalah cita rasa masakan dan berdandannya. Dia pengin tampil beda dan tak ingin disamakan dengan ibu-ibu kelompok arisan yang kerjaannya "ngrumpi" dan "gossiping". Dia pengin tampil lebih intelek dan lebih laki-laki katanya. Dengan bangga dia tunjukkan jam tangan laki-laki yang selalu dia pakai. Ibu Centil adalah salah satu diantara kawan-kawanku lainnya, seperti Ibu Heboh, Ibu Kagetan, Ibu Komentar, dan Ibu Ngantuk.

Tepat jam 6 sore. Jemputan belum datang. Rencana akan pergi dengan Pak Haji ternyata molor. Pak Haji masih berada di jalanan. Untungnya Pak Diam datang mengetuk pintu. Senyum cerah menghias wajahnya, "Mbah sudah ditunggu!". "Baik, sekarang saja kita berangkat", begitu kataku. Kita pun meluncur. Ternyata di rumah Ibu Centil sudah banyak tamu. Ada Ibu Heboh, Ibu Komentar, Bapak Ngantuk, Bapak Gundul, Bapak Cihui, dan lain-lainnya. Begitu aku sampai, Ibu Heboh langsung mulai heboh, "Mbah bagaimana nih?! Orang Indonesia memang suka jam karet!! Mending kita makan saja sekarang!". Ibu Heboh ngomong sambil beranjak dari kursinya. Dia lupa bahwa acara do'a harus didahulukan. Dasar Heboh, baru lapar langsung saja heboh!.

Jam 7.30 sore acara dimulai. Kita mulai berdo'a. Aku memimpin do'a agar semua yang hadir dijadikan oleh Allah sebagai hamba yang bersyukur. Giliran Si Abi meniup lilin. Riang sekali dia ketika meniup deretan lilin kecil yang memagari tepi kue tart cokelat. Aku bergumam dalam hati, "Semoga Allah memberi kesehatan dan menjadikannya anak yang sholeh". Setelah pemotongan kue tart, acara dilanjut dengan shalat Maghrib berjama'ah. Aku minta Ustadz Arswendo untuk menjadi imam. Aku tidak ingin memonopoli acara. Sehabis shalat, barulah acara makan-makan dimulai. Entah apa yang terjadi, Ibu Centil dan Ibu Heboh terlihat kasak-kusuk. Seolah hidung mereka mengendus sesuatu yang tidak beres. Tatapan mereka menatap Bapak Kecil yang berdiri di pojok dan menyepi dengan dunianya. Agaknya dia tidak ingin bercampur dengan kelompok iseng tawa ini. Aku tak ambil pusing dengan hal itu. Biarlah orang lain punya dunianya, sebagaimana aku pun punya duniaku. Buat apa menyemai curiga jika kedamaian bisa kita tanam subur dalam semak hati kita?

Melbourne, 5 Desember 2006

Friday, September 01, 2006

PANTUN KESAN

Menelusuri goa berbatu
Melenggang lepas ke daerah Prapat
Merenungi jalannya waktu
Melesat hebat bagaikan kilat

Kutinggalkan kampung dan desa
Hidup melajang bak pengembara
Tiga tahun lebih tak berasa
Riang hati karena saudara

Belawan kota berseri
Tanjung Katung airnya jernih
Kawan baik tak terperi
Hilanglah galau mengusir sedih

Kicau indah burung kenari
Duduk termenung di samping kebon
Hati senang setiap hari
Hingga berat tinggalkan Melbourne

Budak kecil bermain galah
Jatuh bangun sambil meratap
Kalaulah saya membuat salah

Sudilah tuan memberi maap

Shalat Shubuh menyambut masa
Gema takbir di dalam rumah
Tubuh jiwa berkalang dosa
Karena fakir lagipun lemah

Teriring senyum beruntun
Kepakan sayap si burung merpati
Sengaja saya tuliskan pantun
Untuk menoreh kesan di dalam hati

Bersujud harapkan bersih
Membangun hidup yang penuh arti
Saya ucapkan berlaksa terima kasih
Budi saudara kan saya bawa mati

Pantun ini hanyalah kesan
Pelipur lara rindu bertalu
Saya do’akan Nyonya dan Tuan
Agar berlimpah rizki selalu

Bunga mawar bunga berduri
Harum semerbak dalam perigi
Cukuplah saya memohon diri
Semoga kita berjumpa lagi

-----------
Melbourne, 1 September 2006

Tuesday, August 15, 2006

Agustusan



Memaknai Kembali Kemerdekaan


61 tahun sudah Indonesia merdeka. Gaung dan gempita teriakan “Merdeka Bung!” yang membakar semangat juang pemuda-pemuda Indonesia seakan telah lenyap ditelan usia. Sebagai gantinya hampir setiap tahun perayaan “Agustusan” menjadi ritual nasionalisme reguler yang karikatif dan dekoratif. Perayaan tersebut agaknya dimaksudkan untuk mereka-ulang peristiwa sejarah masa lalu. Agustusan disambut dengan umbul-umbul, bendera merah putih, slametan, parade pawai , upacara bendera dan lomba-lomba rakyat di setiap kampung. Pada saat itu kita seakan larut dalam emosi bahagia menyambut pesta rakyat yang murah meriah. Ironisnya, perjalanan bangsa ini masih saja diwarnai dan dijenuhi oleh banyak persoalan.

Begitu perayaan usai, kembali lagi bangsa ini menatap realitas Indonesia merdeka yang sejatinya belum membebaskan mereka dari belenggu nasib terjajah. Keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan dan mindset yang tak pernah mau berubah selalu saja menggiring bangsa ini melakukan kecelakaan dan kesalahan sejarah yang berulang-ulang. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Desiderius Erasmus, seorang humanis Belanda yang pernah hidup pada abad ke-16, bahwa apapun dan dimanapun manusia berada, mereka selalu saja diliputi oleh kegetiran hidup. Merenungi nasib bangsa ini seakan memaksa kita untuk merevisi pemahaman kita tentang arti kemerdekaan itu sendiri.

Dibanding 61 tahun yang lalu, Indonesia jelas lebih maju secara fisik. Banyak rumah sangat sederhana dibangun, penggusuran atas nama pembangunan nasional menjadi platform kebijakan publik, hotel berbintang bercecer dimana-mana berhimpit dengan perumahan kumuh, mall-mall yang menggusur pasar tradisional semakin marak, jalan toll antar propinsi yang dijejali mobil berbagai merek semakin jor-joran, dan berbagai kenyataan fisik lainnya sebagai bukti bahwa Indonesia memang berubah. Padahal Stuart Mill (1896:1) pernah menyatakan bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya adalah melindungi manusia dari keculasan para politisi penguasa, sebagaimana dia katakan: “By liberty, was meant protection against the tyranny of the political rulers”. Oleh karena itu ada baiknya kita melihat kembali cita-cita luhur yang pernah digoreskan sebagai cetak biru nasib bangsa Indonesia ke depan.


Memahami Arah Nasib

Deklarasi kemerdekaan Indonesia 61 tahun silam merupakan pijakan awal bangsa ini dalam menentukan nasibnya sendiri. Kemampuan determinasi nasib sendiri adalah keniscayaan sebuah bangsa baru yang sebelumnya terkungkung dalam terali kolonialsme. Cita-cita menjadi bangsa merdeka dan mengatur perikehidupannya sendiri adalah euphoria tak terhingga pada saat itu. Oleh karenanya pernyataan proklamasi merupakan momen penting yang menorehkan cita-cita luhur arah pembangunan bangsa ini berikutnya. Sesaat sebelum Soekarno membacakan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan penuh keyakinan dia katakan, “ Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasibnya dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.”

Adapun arah nasib bangsa ini kemudian disusun secara ideal melalui cita-cita luhurnya sebagaimana tercermin dalam mukadimah Undang-Undang 1945 yang menggariskan empat bidang cita-cita. Antara lain: (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) untuk memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tujuan pertama yang berpusat pada perlindungan manusia Indonesia seharusnya lebih ditekankan kepada hak-hak dasar manusia pada umumnya. Tengoklah minimnya perlindungan yang diberikan negara kepada para tenaga kerja kita di beberapa negeri jiran. Kepastian dan kesamaan di hadapan hukum pun masih menyisakan banyak trauma. Seolah-olah hukum sering membela mereka yang berduit. Sedangkan rakyat biasa lebih banyak dimarjinalkan oleh sistem korup yang sudah menggurita. Keutuhan NKRI tidak hanya dipahami melalui konsep teoritis wawasan nusantara belaka. Namun lebih praktis lagi adalah peran negara dalam memandang bumi, udara, dan laut sebagai satu kesatuan hankamrata. Partisipasi negara dan rakyatnya merupakan kolaborasi kokoh untuk mempertahankan keutuhan geografis dan demografis nasional. Hilangnya hasil bumi Indonesia yang diangkut oleh cukong asing ke negeri jiran karena mentalitas korup pejabat lokal dan pusat, lepasnya Sipadan dan Ligitan sebagai akibat lemahnya kemampuan diplomasi kita di mata internasional, pembalakan liar yang melibatkan aktor lama dan masyarakat, dan kehilangan wibawa menangkal interfensi negeri-negeri asing merupakan bukti bahwa perlindungan terhadap rakyat dan kesatuan geografis masih membutuhkan waktu panjang.

Kedua, memajukan kesejahteraan umum adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar. Amanah kesejahteraan ini tak akan bisa tercapai jika prasyarat adil belum ditegakkan. Adil dan makmur adalah dua hal yang saling berkait karena kemakmuran tak akan bisa diraih tanpa eksistensi keadilan, dan keadilan pun tak bisa dinikmati andaikata tak ada kemakmuran. Aksesibilitas pelayanan publik belum menyentuh kepentingan banyak pihak. Pembangunan hanya diciptakan bagi orang normal, sedangkan mereka yang memiliki keterbatas fisik seakan dinafikan dan ditindas.

Cita-cita berikutnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejarah nasional mencatat bahwa kaum nasionalis pernah berinisiatif untuk berjuang secara intelek. Sekembalinya Syahrir dan Hatta dari Belanda pada awal 1930an dibentuklah sebuah organisasi kepemudaan dengan nama PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) pada Desember 1931. PNI bentukan anyar ini lazim dikenal sebagai PNI baru. Keberadaan organisasi ini menambah sempalan baru setelah adanya PNI lama (Partai Nasional Indonesia) yang didirikan pada tahun 1927 dan Partindo (Partai Indonesia) tahun 1929. Organisasi nasional Pendidikan Nasional Indonesia ini bertujuan untuk mendidik bangsa ini melalui tiga ranah pendidikan, yakin pendidikan politik, pendidikan ekonomi, dan pendidikan sosial. Pendidikan politik diproyeksikan agar rakyat memahami hak-hak politiknya. Dengan demikian mereka akan melek hukum dan tata pemerintahan. Pendidikan politik diperlukan untuk mendukung pemerintahan baru yang berbasis pada demokrasi dan nasionalisme. Rakyat harus paham bahwa pemerintah pada dasarnya tunduk pada kehendak rakyatnya. Bukan sebaliknya, rakyat malah tunduk atas tirani penguasa.

Pendidikan ekonomi adalah usaha membangkitkan semangat wirausaha bangsa Indonesia. Hatta memandang bahwa ekonomi kerakyatan yang bersumbu pada koletivisme adalah yang paling pas untuk Indonesia baru. Oleh karena itulah Hatta menyokong pendirian koperasi-koperasi rakyat sebagai elemen dasar pendidikan ekonomi. Adapun pendidikan sosial lebih diarahkan kepada kemampuan bangsa ini untuk membangun kerukunan dalam keragaman. Di samping itu pendidikan sosial dimaksudkan agar bangsa ini mampu mengahadapi berbagai macam cobaan dan musibah alam. Pada intinya, pendidikan sosial bertujuan untuk memperkokoh karakter bangsa Indonesia (character building). Konflik komunal dan rasial dalam rentang kehidupan sosial kita yang berlarut-larut terjadi merupakan kelemahan tak terbantahkan dari rangka sosial bangsa ini. Hal ini sebagai akibat gagalnya pendidikan sosial yang berbasis pada kebhinekaan dalam bingkai kerukunan.

Keempat, keikutsertaan Indonesia dalam kancah internasional secara aktif merupakan langkah instrumental agar Indonesia diakui di tengah-tengah bangsa-bangsa dunia lainnya. Sebagai bangsa yang pernah menggoreskan nasibnya sendiri melalui perjuangan berdarah-darah selayaknya Indonesia menunjukan “gigi”-nya kepada bangsa-bangsa lain. Bangsa ini harus memiliki kemauan dan kemampuan keras untuk maju. Anak bangsa yang bertebar menjadi duta-duta bangsa karena prestasinya adalah aset pembangunan yang tak boleh disia-siakan. Kita perlu optimis untuk menciptakan sebuah loncatan pembangunan demi terciptanya Indonesia merdeka yang lebih bermartabat. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari bangsa lain, namun lebih didorong oleh keinginan merubah nasib, keikhlasan tanpa pamrih dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Rekonstruksi kemerdekaan

Jika tidak ditataulang konstruksi kemerdekaan nasional ini, maka generasi yang akan dating tidak akan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Banyak mereka-mereka yang terbiasa dengan gaya hidup hedonik yang tercerabut dari akar budaya luhur tanah air sendiri. Sementara itu tak sedikit yang merasa malu untuk mengakui dirinya sebagai orang Indonesia. Konsep kebangsaan dapat lepas dari kurungan imajinasi kolektif andaikata bukti-bukti peradaban dan kemajuan faktual bisa dibuktikan. Tidak mustahil aktualisasi produk-produk pembangunan yang dipersembahkan kepada kepentingan rakyat akan membangkitkan semangat keindonesiaan yang semakin luntur ini.

Pemahaman kita tentang kemerdekaan hendaknya tidak sekedar muncul pada saat Agustusan saja. Alangkah arifnya kalau bangsa ini bisa memahami makna kemerdekaan yang lebih luas dibanding sekedar peringatan tujuh-belas Agustusan. Mengisi kemerdekaan jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan mengisi acara-acara seremonial belaka. Kita patut mendesain Indonesia dengan rekonstruksi yang lebih mengedepankan cita-cita luhur di atas. Indonesia yang kaya sumber alam, budaya, nilai dan tradisi hanya akan bermanfaat jika semua elemen bangsa ini mampu bahu membahu menuju cita-cita luhur bersama. Kepentingan individu dan golongan hendaknya lebur ketika kita menyadari bahwa bangsa ini harus bergerak menuju nasib gemilangnya kalau tak ingin terus terpuruk digilas roda zaman. Wariskan kemerdekaan ini dengan penuh semangat juang tanpa henti kepada anak cucu kita. Indonesia maju sejatinya adalah cita-cita kita bersama.

Melbourne, 15 Agustus 2006

Tuesday, July 18, 2006

Tangis

Kesedihan seakan enggan lenyap dari kelopak mata
berbilang nyawa melepas diri dari raganya
berlaksa naas menancap kehidupan anak manusia
Mungkin Tuhan berkehendak menyapa
mengingatkan anak manusia atas alpa yang diperbuatnya
Dia.........................
Membelai makhluk dengan kasih sayang-Nya
meski berujung tangis tanpa tawa

Aceh menangis
Nias menangis
Yogya menangis
Porong menangis
Makassar menangis
dan kini
deretan wilayah di bibir laut selatan
pun harus menangis
digempur gempa
dan dihempas ombak selatan

Manusia tak berdaya
menghadapi kekuatan Rabb Seru Sekalian Alam
Allaaaaaaahu Akbar.....
kuasa Mu tiada bertanding
rahmat Mu pun tiada berbanding
Yaa 'Aziiz..... Yaa Ghaffaaar.....
takdir Mu tiada bergeming
semua makhluk tiada berpaling
Ke-Maha-an-Mu adalah pusat
yang dikelilingi qadla dan qadar
dalam lembar lauh mahfuz

Semua tunduk mengikuti acung jari-Mu
"Kun fa yakun"
Kami rela kembali kepada Mu
karena kami adalah milik Mu

Kami yakin bahwa kami akan membisu
menunduk malu
dihadapan Mu
selama hidup membusungkan dada
memberhalakan harta
menyembah tahta
memalingkan realita yang fana
menghabiskan waktu demi cita dan asa
melalaikan syukur kepada Mu karena berhala Latta dan Uzza
masih memagut kerakusan jiwa
Masihkah kami diperkenankan mengemis sorga
sementara dosa tak terhitung dan tak terhingga?

Melbourne, 19 Juli 2006

Bohong


Mencari manusia jujur di dunia yang sudah gila ini adalah bak mencari jarum dalam tumpukan jerami. Karena pada hakikatnya diri kita adalah bukan diri kita ketika kita bercermin pada makhluk hidup lainnya. Kita hanya akan menemukan diri kita ketika bercermin melalui kaca hati dan bertanya, "Siapa aku?". Pertanyaan semacam ini bisa dilontarkan dan dihujamkan dalam relung hati kita yang paling dalam. Niscaya kita akan menemukan sederet jawaban mengenai siapa diri kita yang sebenarnya. Dalam alam kontemplatif kita akan menemukan diri kita yang sesunggunya. Diri yang banyak cacat, banyak kekurangan, dan banyak dosa. Bahkan kita akan menemukan diri yang terbiasa berenang dalam kubangan larangan Tuhan.

Maka bisa dimafhumi kita cenderung memakai topeng diri yang lain manakala kita bergaul dengan makhluk Tuhan yang lain. Ketika kita bergaul dengan suami, maka kita memakai topeng istri. Ketika kita bergaul dengan anak-anak kita, maka kita mengenakan topeng sebagai ibu atau bapak dari anak-anak. Ketika kita pergi ke tempat kerja, maka kita mulai memakai topeng lain sebagai karyawan. Dan masih banyak contoh lain yang kesemuanya menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk dengan seribu wajah. Kalau Rahwana cuma memiliki sepuluh wajah saja, maka kita lebih digdaya dibanding Rahwana si pencuri istri orang. Di sinilah kita dipaksa untuk selalu memakai topeng yang bermacam-macam.

Namun salahkah itu semua? Jawabnya adalah relatif. Maknanya kita diperbolehkan memakai topeng sesuai dengan kondisi dan tempat kita berada. Untuk menjadi suami yang baik, maka topeng manis dan murah senyum adalah keniscayaan untuk melanggengkan hubungan suami-istri. Malah Rasul sendiri memperbolehkan seorang suami berbohong tentang rasa masakan istri ketika sesungguhnya masakan buatan istri tak begitu memantik selera di lidah. Hal ini dilakukan agar suami mampu menyiram kebahagiaan dan kemesraan dalam jiwa sang istri. Betapa damai ketika topeng kita kenakan sesuai waktu, kondisi, dan posisi. Apa jadinya kalau seseorang tak mengenal posisi? Seorang kere akan berlagak bak bos sebuah bank untuk mengelabuhi gadis pujaannya, seorang preman berlagak suci masuk ke masjid dengan niat mencuri sandal, dan seorang penyelingkuh akan berlagak setia meski kebusukannya akan menyebar di depan hidung istrinya. Kalau tak mengenal waktu, kondisi dan posisi, maka topeng itu menjadi sangat tidak etis.

Konon ada seorang murid yang dipesan oleh gurunya untuk merahasiakan sebuah ilmu yang diberinya. Jangan sekali-kali rahasia itu diceritakan kepada kawan-kawan seperguruannya. Si murid pun mengangguk. Namun dalam kepalanya berkecamuk, "Kenapa guru mengajarkan aku berbohong?" Bukankah bohong itu merupakan jendela kemunafikan?." Si Murid berontak dengan nasihat gurunya. Dia pun tak mengindahkan nasihat gurunya. Dia bersikeras bahwa dia tak ingin berbohong, dia ingin menjadi manusia jujur dan terbuka. Diceritakanlah perihal ilmunya itu kepada semua kawan seperguruannya. Akhir cerita, si murid mendapatkan gurunya terbunuh karena racun yang dimasukan ke dalam makanannya. Dalam secarik pesan terakhirnya si guru menulis, "Muridku, inilah hasil dari kejujuranmu". Si Murid baru mengerti bahwa rahasia yang dia sebarkan ternyata menyulut iri dan dendam di kalangan sesama murid.

Dalam masa Nabi Yusuf, ketika Yusuf mengetahui adiknya Bunyamin bersama rombongan anak-anak Ya'kub, dia pun berpesan kepada penasihatnya agar jangan bercerita kepada siapapun perihal dia telah menyelipkan timbangan emas di dalam karung Bunyamin. Kebohongan Yusuf kepada penasihatnya ternyata berbuah kepada berkumpulnya semua keluarga Ya'kub yang diikuti taubat massal saudara-saudara Yusuf.

Bohong merupakan topeng yang sewaktu-waktu diperlukan. Topeng yang seyogyanya dipakai sesuai dengan waktu, kondisi dan posisi yang sesuai dengan tujuan mulia. Tuhan berpesan, "wa laa tulquu aydiyakum ilat tahlukah" (Janganlah kau ulurkan kedua tanganmu dalam jurang kehancuran). Gunakan topeng ini demi kedamaian dan kebaikan bersama.

Melbourne, 19 Juli 2006

Sunday, July 16, 2006

Sajak untuk Perokok


Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannyaketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat juga merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter,pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang sambil merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbolamengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli 'hisap'.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokoklebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Thursday, July 13, 2006

Amuk Mahasiswa

Pendidikan Tinggi:
Gedung Rektorat UNM Diserang Sekelompok Mahasiswa

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=105754

MAKASSAR--MIOL: Gedung Rektorat Universitas Negeri Makassar (UNM) diserang sekelompok mahasiswa, Rabu (12/7). Para penyerbu mengaku anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNM dan mahasiswa Fakultas Teknik UNM.

Akibat serangan tersebut, semua kaca jendela di gedung rektorat pecah mulai dari lantai satu sampai tiga, karena terkena lemparan batu. Mereka juga memukul dengan stik hoki, selain melepaskan busur panah.

Awalnya, mahasiswa berunjuk rasa di Kantor DPRD Sulawesi Selatan, kemudian dilanjutkan di depan gedung rektorat yang jumlahnya hanya 15 orang. Tapi, di gedung rektorat, yang dijaga mahasiswa dari Fakultas Ilmu Keolahragaan diserang oleh puluhan orang.

Mahasiswa Fakiltas Ilmu keolahragaan yang tidak siap, dipukul mundur para pengunjuk rasa. Tak lama mereka merusak kaca jendela di rektorat.

Dalam aksi tersebut, satu orang luka dari fakultas teknik. Tiga orang diamankan pihak kepolisian Makassar Timur, yang didapati membawa senjata tajam dan busur.

Aksi tersebut merupakan lanjutan dan balas dendam Jumat (7/7) lalu, saat anggota BEM UNM berunjuk rasa menolak kenaikan SPP dari Rp375 ribu menjadi Rp675 ribu.

Saat itu anggota BEM yang berunjuk rasa diusir paksa pihak rektorat dan mahasiswa yang mengamankan kampus, yang merusak sekretariat BEM Fakultas Ilmu Pendidikan.

Karena tidak puas, anggota BEM UNM bergabung dengan mahasiswa Fakultas Teknik, berunjuk rasa dan menyerang rektorat.

Atas pengerusakan tersebut, Pembantu Rektor III, Syamsu Gani menyatakan, mahasiswa yang melakukan pengerusakan akan mendapat sanksi akademik atau bahkan diberhentikan dari UNM. (LN/OL-02).

(Keterangan gambar:
Seorang mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) (kiri) tampak memegang parang dalam bentrokan antarmahasiswa di gedung rektorat kampus Gunung Sari Makassar, Rabu. Keributan dipicu kenaikan SPP dari Rp375 ribu menjadi Rp675 ribu).

Tuesday, June 27, 2006

UN Sadis

Ujian Nasional Sadis
http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0606/20/120853.htm

Ujian nasional (UN) SMA pertengahan Mei lalu menelan banyak korban. Sebanyak 6.906 pelajar tak lulus, termasuk sejumlah pelajar yang diterima di perguruan tinggi negeri.

Rincian siswa yang tak lulus UN adalah 3.675 siswa SMA dari 62.179 peserta UN plus 3.231 siswa SMK dari 56.562 peserta ujian. Di antaranya siswa yang tidak lulus merupakan siswa yang sudah diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) lewat jalur khusus.

Nilai ujian nasional atau UN dijadikan satu-satunya penilai kelulusan siswa kelas III SMA dan sekolah sederakat seperti SMK. Standar kelulusan mencakup dua hal, yakni nilai per mata pelajaran miminal 4,26 dan rata-rata 4,51. Mata pelajaran yang diujikan dalam UN hanya tiga. Yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika (untuk jurusan IPA) atau ekonomi (untuk IPS) atau bahasa asing lain (untuk jurusan bahasa).

Di bawah standar itu, seorang siswa dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang. Sebab, mulai tahun ini tidak ada lagi ujian ulangan. Bayu Taruna dari SMAN 71 Duren Sawit, misalnya, dinyatakan tidak lulus karena memiliki nilai UN sebagai berikut: bahasa Indonesia 8,8, bahasa Inggris 9,2, dan matematika 4. Nilai matematika 4 jadi penghalang karena di bawah ketentuan minimal 4,26 meski nilai rata-ratanya mencapai 7,3 (jauh di atas standar 4,51).
Muhammad Al Farisi dari SMA Islam PB Sudirman bernasib sama dengan Bayu. Nilai UN bahasa Indonesia 8, bahasa Inggris 7,2, dan matematika 4. Fatma Wijayanti dari SMA Islam PB Sudirman memiliki nilai bahasa Indonesia 7,6, bahasa Inggris 8, dan matematika 3,67. Bayu, Farisi, dan Fatma memang bernasib sangat tragis. Sebab, ketiga pelajar itu sudah dilirik oleh perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai siswa berbakat. Ketiganya diterima sebagai mahasiswa di PTN tanpa tes.

Program ini dikenal dengan sebutan Penelusuran Minat, Bakat, dan Kemampuan (PMBK). Program ini berbeda dengan program akselerasi yang mengandalkan uang masuk yang mahal. Bayu Taruna diterima sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Pertanian Universitas Brawijaya (Unibraw), Muhammad Al Farisi di Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Fatma Wijayanti tercatat sebagai mahasiswa administrasi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Namun penerimaan itu dibatalkan karena PTN tidak menerima siswa yang tidak lulus sekolah.

Wakil Kepala Sekolah SMAN 71 Duren Sawit, Budi Susilo, mengatakan bahwa sekolah tidak bisa membatalkan ketidaklulusan siswa, walaupun sudah diterima di PTN. Sebab, penentu kelulusan adalah nilai UN. "Kami hanya ikut aturan dan kami tidak punya kewenangan apa-apa," kata Budi di ruang kerjanya SMAN 71 Duren Sawit.

Budi Susilo menjelaskan sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMAN 71, prestasi dan perilaku Bayu Taruna sangat baik sehingga pihak sekolah mendukungnya untuk mendaftar ke Unibraw tanpa tes. "Kami kecewa sekali, karena murid yang kami pantau sejak kelas satu ini tidak lulus. Prestasi belajarnya selama tiga tahun tidak bisa menentukan kelulusannya," katanya.

Selain Bayu Taruna, di SMAN 71 Duren Sawit, masih ada 8 siswa dari jurusan IPA yang tidak lulus karena nilai matemati di bawah 4,26. Budi menambahkan bahwa orangtua yang anaknya tidak lulus sekolah, ada yang datang ke sekolah untuk meminta surat keterangan tidak lulus. Pasalnya, anaknya sudah diterima di perguruan tinggi swasta dan bila anaknya dinyatakan tidak lulus, harus membawa surat keterangan sebagai syarat meminta kembali uang pendaftaran dan uang kuliah di kampus tersebut.

Rasa kecewa juga diungkapkan orangtua dari Bayu Taruna, Bambang Purwosedono. Bambang menyebut sistem kelulusan dengan mengandalkan nilai UN sama sekali tidak adil. Ia akan mengadukan nasib anaknya ke Komisi X DPR RI yang membidangi masalah pendidikan. "Saya selaku orangtua kecewa. Anak saya kurang beruntung dengan adanya aturan seperti itu," kata Bambang yang juga mengajar fisika di SMA.

Ia bilang sistem pendidikan nasional atau sisdiknas yang berlaku sekarang ini tidak menghargai jerih payah para pendidik di sekolah. Pasalnya, saat kelulusan yang memberi penilaian akhir bukan guru yang bersangkutan melainkan pihak lain dalam hal ini Depdiknas. "Kami guru yang tahu kondisi di lapangan, tidak mungkin memberi penilaian ke siswa hanya dalam tempo 120 menit untuk satu mata pelajaran. Ini kurang adil," tutur Bambang yang sudah 20 tahun mengajar.

Bambang menambahkan bahwa anaknya stres, karena tidak menyangka tidak lulus sekolah. "Dia tidak mau mengulang belajar setahun lagi, stres, dan merasa cita-citanya kandas. Jerih payah anak selama tiga tahun tidak dilihat. Kalau dipikir-pikir, ya sudah anak tidak usah disekolahkan saja, tapi disiapkan hanya untuk UN. Orientasi bukan proses belajar di sekolah tapi ke UN," ucapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta, Margani M Mustar, mengatakan pihaknya hanya bisa mengikuti peraturan sistem pendidikan yang diterapkan Depdiknas. "Ya, gimana, undang-undang sudah mengaturnya. Saya juga kecewa karena tidak bisa berbuat apa-apa, tapi semuanya kembali lagi ke undang-undang yang mengaturnya," katanya.
Ia berharap perguruan tinggi yang sudah menerima siswa SMA melalui jalur tanpa tes bisa memberi kelonggaran atau toleransi, dan menunggu siswanya hingga lulus ujian kembali. "Siswa yang sekarang tidak lulus bisa mengikuti paket C dengan belajar selama tiga bulan lagi, kemudian di bulan November bisa ikut ujian paket C," katanya. (Tan)Penulis: Martian Damanik

======================================================

Angka Kelulusan Ujian Nasional SLTA 91,43 Persen
http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0606/20/095138.htm

Persentase rata-rata angka kelulusan Ujian Nasional (UN) 2005/2006 untuk sekolah menengah lanjutan atas (SLTA) mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan UN tahun 2004/2005 lalu.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suhendro, mengatakan untuk SMA dari 80,76 persen pada UN 2004/2005 menjadi 92,50 persen pada UN 2005/2006. Untuk Madrasah Aliyah (MA) dari 80,37 persen menjadi 90,82 persen, SMK dari 78,29 persen pada UN 2004/2005 menjadi 91, persen pada UN 2005/2006. "Rata-rata persentase kelulusan siswa SMA, MA, dan SMK meningkat dibandingan dengan UN tahun sebelumnya," kata Bambang ketika mengumumkan hasil UN di Gedung Depdiknas, Jakarta, Senin (19/6).

UN 2006 dilakukan serentak di seluruh Indonesia yang diikuti oleh 1.958.746 siswa SLTA, yakni SMA sebanyak 1.093.737 siswa, Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 221.801 siswa, dan SMK sebanyak 643.208 siswa SMK. Hasil UN ini diumumkan secara serentak di seluruh Indonesia pada Sabtu (17/6).
Ia mengatakan, UN merupakan salah satu pertimbangan kelulusan dari satuan pendidikan. Umumnya, penyelenggaraan UN tahun ini berjalan lancar baik persiapan, pelaksanaan, sampai dengan pemeriksaan hasil UN dengan melibatkan tim pemantau independen.

Lembar jawaban UN dikumpulkan dari ruang ujian ke penyelenggara ke tingkat sekolah/madrasah. Kemudian, dikumpulkan ke penyelenggara tingkat kabupaten/kotamadya dan penyelengara tingkat provinsi. Pemindaian (scanning) dilakukan di tingkat provinsi dan penilaian (scoring) di tingkat pusat.

Untuk setiap mata pelajaran yang diujikan di UN SMA/MA/SMK juga rata-rata meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk SMA, mata pelajaran Bahasa Indonesia meningkat dari 6,57 menjadi 7,52. Bahasa Inggris dari 6,12 menjadi 7,54, dan matematika/ ekonomi/bahasa asing 6,54 menjadi 6,94.

Madrasah Alyah (MA) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia meningkat dari 6,46 menjadi 7,18, Bahasa Inggris dari 5,96 menjadi 7,16, dan matematika/ekonomi/ bahasa asing dari 6,44 menjadi 6,72. Untuk SMK, mata pelajaran bahasa Indonesia meningkat dari 6,13 menjadi 6,82, bahasa Inggris dari 5,61 menjadi 6,67, dan matematika dari 6,65 menjadi 6,98.

Peningkatan persentase kelulusan dan nilai mata pelajaran ini mengindikasikan terjadi peningkatan mutu pendidikan sekolah menengah secara nasional. "Hasil ini, antara lain disebabkan oleh kenaikan batas ambang batas rata-rata menjadi 4,50 dan kebijakan satu kali ujian, tanpa ulangan," ungkap Bambang.

Disparitas kelulusan antara SMA dengan MA, dan SMK juga menurun sebagaimana tampak dengan menurunnya jarak antara tingkat kelulusan tertinggi dengan tingkat kelulusan terendah pada UN tahun ini dengan tahun sebelumnya. Perbandingan tersebut adalah 2,13 menjadi 1,39 untuk SMA. Sebanyak 2,57 menjadi 1,47 untuk MA, dan 2,91 menjadi 1,36 untuk SMK.
Hasil UN di daerah bencana seperti Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.

Berdasarkan penilaian tersebut, lanjut Bambang, BSNP merekomendasikan kepada pemerintah, agar tetap melaksanakan ketentuan peraturan Mendiknas No 20/2005, yaitu untuk tahun pelajaran 2005/2006 UN dilaksanakan sekali.
Sementara itu, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Mutendik) Depdiknas, Fasli Jalal, mengatakan siswa yang tidak lulus ada dua opsi, yaitu kembali ke kelas tiga atau mengikuti program kelompok belajar (kejar) paket B (untuk SLTP) dan paket C (untuk SLTA) yang akan diselenggarakan pada Oktober mendatang. Penulis: I Made Asdhiana

Sunday, June 25, 2006

Kontemplasi

Satu tugas sudah aku penuhi
Gunungan masalah sudah aku lewati
Bahagia memenuhi relung dadaku
Aku bernafas lega
dan hari mendung pun nampak cerah
aroma dingin pun terasa hangat
Mendung pekat bak mozaik indah
memoles temaram senja

Namun, seakan Tuhan hendak mengujiku
ketika ku menapak pasti
ketika kusambut hari
kakiku tersandung batu kehidupan
kujatuh berguling dan terhempas tanpa daya
Aku berteriak tanpa peduli bahwa
dalam rongga jurang aku seorang diri

Aku sadar bahwa aku datang dari ketiadaan
Aku tak memiliki apa-apa
dan tak memiliki siapa-siapa
Aku merayap menopang tubuh
tanganku menggenggam erat akar jiwa

Dalam kesendirian di rongga sunyi
kuteringat derai tawa kawan sepermainan
kulihat nyinyir senyum para munafik
kutatap mimik tukang fitnah
kusepak ember-ember kusam yang berserak di dalam jurang
Sia-sia, tenagaku tak tersisa

Tuhan..... aku terlalu lemah dan bodoh
Hanya Engkau kawan sejati yang patut aku ajak berbagi
Selama ini
belum kutemukan seorang kawan yang mau bergandengan
bermesra dalam titian Ilahi
menutup rapat semua cela diri
mengunci liang nafsu bangkitkan gairah ibadah

Karena kutersandung batu ujian
Ku semakin erat mencengkram akar jiwa
agar ku kuat menopang tubuh
yang penuh dengan lumpur dosa
Ku ingin bersama Mu lagi
dalam rongga jurang sunyi
namun damai dalam sanubari
Ku tak punya apa-apa
dan ku tak punya siapa-siapa
Tangan-Mu lah yang kegandeng
tuk membimbingku menyusuri
gelap jurang menuju setitik cahaya hidayah-Mu

Melbourne, 26 Juni 2006

Friday, June 23, 2006

Ujian Nasional (lagi)


...

Seorang anggota DPR dari sebuah partai politik malah berkomentar nyleneh. Dia setuju kalau semua peserta UAN diluluskan dan tidak boleh satupun siswa yang dinyatakan gagal. Tanpa memberikan alternatif yang bijak, si anggota DPR ini lebih suka menambah masalah dan melempar segepok masalah lainnya. Mau jadi apa pendidikan nasional ini kalau tak memiliki kendali mutu melalui alat evaluasi? Apakah sekolah hanya akan menjadi lembaga seremoni dengan memberikan ijasah cuma-cuma? Mungkin pandangan dia ini diakibatkan pengalaman banyaknya anggota DPR dan DPRD yang memiliki ijasah "sihir".

Banyak orang tua dan para siswa yang menuntut ujian ulangan (remedial) untuk menebus ketidaklulusan mereka. Namun kenyataannya, pemerintah (sebagaimana diumumkan oleh wapres Jufus Kalla) menegaskan bahwa tidak akan diadakan ujian susulan. Mendiknas, Bambang Soedibyo, menetralisir dengan menawarkan para siswa yang gagal untuk mengikuti ujian Paket C yang setara SMA. Bahkan negara menjamin, sesiapapun yang mengikuti program Paket C, biayanya akan dijamin oleh negara. Dinyatakan pula bahwa secara undang-undang, ijasah kelulusan Paket C itu setara dan sama dengan ijasah SMA. Sehingga lulusan dari program ini memiliki hak melanjutkan ke perguruan tinggi atau mencari pekerjaan di tanah air ini. Namun, sesiapapun akan merasa pesimis dengan statemen ini. Siapa yang bisa menjamin bahwa perguruan tinggi-perguruan tinggi dan sektor-sektor formal di Indonesia tidak akan bersikap diskriminatif terhadap dua ijasah yang berbeda (meski dinyatakan sama level-nya)?.

Mengamati pembangunan pendidikan nasional, seakan-akan kita disuguhi tontonan drama babak bersambung. Namun satu babak dari drama tersebut tidak memiliki kaitan apapun dengan babak yang sebelumnya. Demikian pula dengan kebijakan pendidikan nasional. Terkesan ganti menteri, maka ganti kebijakan. Mutu pendidikan nasional tidak pernah dievaluasi secara mendasar dan radikal. EBTA ditambah dengan EBTANAS yang meniscayakan siswa harus memiliki NEM (Nilai Ebtanas Murni), kemudian EBTANAS dihapuskan menjadi UAN (Ujian Akhir Nasional) yang membawa petaka bagi kebanyakan siswa. Tak mengherankan angka kelulusan di DKI adalah 99.84% karena infrastruktur yang menjamin hal ini. Bagaimana dengan daerah-daerah tertinggal, daerah konflik, dan daerah krisis musibah alam? Intinya, pemerintah seakan menutup mata bahwa standarisasi sejatinya memerlukan prakondisi, yakni penataan infrastruktur dunia pendidikan nasional secara merata. Mutu guru pun tidak bisa dinafikan karena mereka merupakan "avan garde" dalam praktek pendidikan nasional.

Untuk mengeliminir konflik yang diakibatkan oleh pelaksanaan UAN ini, hendaknya pemerintah mengadakan "try-out" dan pengukuran validitas test agar bisa ditentukan standar kelulusan secara arif. Disamping itu, pemerintah juga harus bijak untuk meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di semua pojok tanah air ini. Pelaksanaan wajar sembilan tahun atas biaya negara pun harus dijamin pelaksanaannya. Oleh karena itu yang terpenting saat ini adalah tunaikan janji pemerintah bahwa mereka yang gagal UAN bisa melakukan semacam ujian susulan pada program Paket C dengan biaya negara. Sertifikat yang dikeluarkan program ini harus dijamin keabsahan dan kesamaannya dengan ijasah SMA. sambil terus menata kekurangan pembangunan di sektor pendidikan ini.

Wednesday, June 21, 2006

Ujian Nasional

Ujian Nasional ditengarai memakan banyak korban manusia. Puluhan ribu siswa sekolah menengah merasa nasib mereka bak telur di ujung tanduk ketika harus menghadapi sistem ujian nasional ini. Pasalnya standar nasional yang dijadikan patokan lulus adalah 4,25 pada masing-masing mata pelajaran yang diujikan yang meliputi Matematika, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Patokan ini dipandang sangat memberatkan siswa-siswa yang tak memiliki kemampuan seragam dalam mata pelajaran-mata pelajaran tersebut. Belum lagi heterogenitas infrastruktur pendidikan nasional yang masih timpang.

Walhasil pengumuman UAN kemarin menuai korban. Banyak orang tua tak habis pikir, begitupun banyak siswa yang tak bisa menerima hasil akhir sekolahnya. Siswa-siswa yang merasa tak "bego-bego" amat di kelasnya tidak bisa terima ketika "bad-luck" menghujam nasib sesaat. Bagaimana tidak? Belajar sekian tahun hanya diukur oleh ujian yang cuma berlangsung dua hari. Lebih parahnya seorang siswa dinyatakan tidak lulus karena nilai matematikanya di bawah 4,25. Sedangkan nilai bahasa Indonesianya 9, dan bahasa Inggrisnya 8 sama sekali tidak digubris. Yang terang dia dinyatakan gagal dan wajib mengulang tahun berikutnya. Kalau enggan, maka dipersilahkan mengikuti ujian bersama peserta Kejar Paket C yang setara SMA.

Ada lagi cerita seorang siswa yang sudah bangga diterima di sebuah perguruan tinggi negeri bergengsi di Yogyakarta. Namun karena nilai matematika dalam ujian nasional kemarin jeblok, maka kebanggaannya menjadi calon mahasiswa sirna seketika. Ironisnya dia diterima di jurusan MIPA yang nota bene "hanya" diperuntukan bagi mereka yang tak kenal "give-up" menggeluti nalar-nalar eksakta. Lain lagi cerita seorang siswi di Jakarta yang sudah mengantongi surat penerimaan beasiswa di luar negeri. Kabarnya dia mendapatkan beasiswa ke Jerman dan ke Australia untuk sekolah S1 di bidang psikologi. Sayang, dia harus malu dan menelan perasaan getir ketika salah satu nilai mata pelajaran dalam UAN membuatnya dinyatakan tidak lulus.

Yang paling bingung ternyata bukan hanya orang tua dan para siswa, namun Komnas HAM-pun dibuat kewalahan. Para orang tua siswa dan para siswa menuntut Komnas HAM untuk bertindak sesuai jalur hukum untuk menyeret Mendiknas ke meja hijau. Pasalnya gara-gara mendiknas lah anak-anak mereka menjadi tertekan dan frustasi. Seorang siswa diberitakan mengancam akan bunuh diri jika tidak diberi kesempatan untuk mengulang UAN tahun ini. Dia tidak mau menghabiskan usianya jika harus duduk kembali di dalam kelas. Ada-ada saja potret dunia pendidikan nasional ini. Mengapa gara-gara UAN banyak yang menjadi frustasi? Mengapa kecerdasan bangsa ini mesti ditentukan dengan ranah kognisi? Mengapa ranah afeksi, spiritual, dan emosional tidak menjadi sentuhan pendidikan nasional? Tidak heran kalau produk-produk pendidikan nasional lebih suka mendahulukan dengkul daripada akal.

(Sambung)

Thursday, May 25, 2006

Hambar

Hari ini

Seakan pagi tersenyum hambar
karena aroma indah membentur tawar
Baru kusadar bahwa tawa adalah sekejap
begitupun sedih tinggalkan senyap

Aku tahu bahwa rasa hanya sebatas lidah
bukan abadi ketika lenyap di tumpukan sampah
Kutercenung ketika hidup memoles realita
menggilas ceria dan meluluhlantakkan semua asa
Padahal semuanya berawal dari sepatah kata

tiadakah sadar bahwa warna pelangi selalu ada
tuk menoreh harap bahwa tidak semua nafas adalah duka

Melb,26/5/06

Monday, May 08, 2006

Sisa Cinta

Angin malam di penghujung musim semi semakin keras. Dingin menusuk tulang. Lola duduk dekat perapian sambil merapatkan lututnya ke tubuhnya. Tangannya melingkar dan mendekap kakinya yang jenjang terbalut jeans warna hitam. Dagunya disandarkan di antara lututnya. Lola memandang jilatan api yang menari-nari menyeruak di atas pori-pori kayu pinus. Pijar kuning dan biru menyala memancarkan keindahannya sendiri. Malam itu suasana rumah sepi, Mas Aryo sedang keluar kota untuk keperluan bisnisnya.

Seulas senyum menghias bibir Lola. Ingatannya ternyata mengetuk lembar-lembar memori masa lalunya. Lola masih ingat kejadian tadi siang ketika dia jalan-jalan di Swanston street untuk sekedar window shoping di deretan pertokoan yang biasa dipenuhi oleh orang yang lalu lalang dari dan menuju stasiun kereta Flinders Street. Suara roda besi trem listrik yang beradu dengan relnya mengeluarkan bunyi derit khas di sepanjang jalan Swanson menyesuri jantung kota yang dihujami oleh gedung-gedung tua. Trem listrik menjadi maskot kebanggaan kota Melbourne. Lola masuk toko sepatu untuk sekedar mencoba beberapa model sepatu yang disukainya di salah satu gerai sepatu. Kebetulan saat itu sedang obral. Lumayan untuk memanjakan diri dengan ukuran ekonomis. Interior gerai terlihat manis dengan deretan sepatu yang dipajang rapi dengan sentuhan seni dan desain cantik. Beberapa sepatu berhak tinggi ditaruh di atas lemari kaca di pojok ruangan. Tak ketinggalan sepatu-sepatu boot mirip yang dipakai oleh penyanyi country Dolly Parton dipajang berundak-undak di etalase.

“Ini dia, model yang kucari”, gumam Lola seraya mengambil sepasang sepatu kulit merek Clarks warna hijau muda. Dia segera mencari bangku kecil untuk mematutkan sepatu di kaki mungilnya. “Pas ukurannya…”, senyum Lola mengembang. Ketika Lola sedang memandangi sepatu di kakinya, tiba-tiba ada suara laki-laki memanggil nama lengkapnya, “Lola Agustina…”. Yah, suara yang pernah akrab di telinganya beberapa tahun lalu. Sekejap darahnya terserap deras oleh degup jantung yang tiba-tiba bertalu kencang. Lola menengok ke arah suara itu. Ya Tuhan, ternyata Anton sudah berada di belakangnya. Laki-laki yang pernah menghias dinding hatinya. Senyum Anton dengan deretan gigi putih rapi menyentak kebengongan Lola, “Apa kabar Lo…?”. “Baik, lho kok kamu ada di sini Ton?”, cepat-cepat Lola menampik kemasyghulan hatinya.

“Sudah lama kita tak bertemu yah. Mungkin ada sekitar enam tahunan”, cetus Anton untuk menepis kebekuan sambil mengulurkan tangannya ke arah Lola. Lola mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Anton. Ada getar indah yang menyelusup perasaan Lola. “Lo, bagaimana kalau kita ngobrol sebentar di warung kopi di depan sana?”, usul Anton. Anton selalu saja menyebut cafe dengan istilah warung kopi. Lola hanya mengangguk dan ditaruhnya sepatu yang sudah dicobanya di tempat semula. Kebetulan suasana saat itu agak cerah dengan sinar mentari lembut tanpa terik. Anton memesan kopi late dua gelas dan croissant keju dua potong dalam piring berbeda. “Ton, kamu kok ada di sini?”, Lola mengulangi pertanyaannya sekali lagi. “Kebetulan saja Lo, aku ada seminar di Melbourne selama empat hari. Nah, tadi ketika pas aku jalan-jalan, aku ingin membelikan oleh-oleh untuk Mira, istriku. Aku berpikir untuk membeli sepasang sepatu saja. Tapi ketika aku masuk toko itu, nggak dinyana dan nggak diduga tiba-tiba aku melihat kamu lagi nyobain sepatu. Awalnya aku ragu, namun aku beranikan untuk menyebut nama lengkapmu. Syukurlah ternyata kamu mengengok…”, sahut Anton sambil menyeruput late-nya. “Eh, ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu di sini, bagaimana dengan Mas Aryomu?”, tanya Anton seakan menyelidik. Lola pura-pura tersenyum dan berkata, “Baik-baik saja, Mas Aryo saat ini lagi sibuk mengerjakan proyek otomotif di Queensland. Mungkin dalam dua hari mendatang dia balik ke Melbourne.”

Anton menarik nafas dalam, kemudian dia berkata dengan nada berat, “Lo, sejujurnya aku nggak bisa melupakan kamu. Ketika tiba-tiba kamu menghilang, aku bingung dan sedih. Aku tanya Mas Ditya, kakakmu. Katanya kamu tak ingin lagi ketemu aku. Aku tak tahu apa sebenarnya yang membuatmu demikian…”. Lola hanya terdiam. Dia sengaja menghindari Anton karena desakan ibunya yang tak setuju dengan jalinan hubungan mereka. Lola masih ingat ketika ibu Anton mengatakan bahwa Anton tak sepadan dengan Lola yang tak jelas asal muasalnya. Ibu Anton memberi tahu bahwa Anton akan dijodohkan dengan Mira anak perempuan sahabat ayah Anton. Sejak saat itu Lola tidak mau bertemu lagi dengan Anton meski hal itu dirasakan berat sekali. Lola rela berkorban demi kebaikan Anton dan Mira. Untuk mengurangi kepiluan hatinya, Lola memutuskan untuk kuliah di RMIT Melbourne. Perjalanan hidup Lola ternyata membawanya kepada takdir lain. Di Melbourne dia bertemu dengan Aryo dalam sebuah pesta ulang tahun. Untuk menepis bayang-bayang Anton, Lola pun menerima cinta Aryo.

Lola menatap mata Anton, “ Maafkan aku Ton, namun aku lakukan untuk kebaikan kamu dan Mira. Aku tak memungkiri bahwa saat itu aku butuh cinta yang pasti. Harapanku saat itu adalah kamu. Namun sekali lagi cinta tidak harus memiliki, dan cinta harus melihat realitas…”, suara Lola tercekat dan matanya terlihat sendu. Anton terdiam, tatapannnya tak lepas dari wajah Lola. Kemudian Anton menggenggam tangan Lola. Antahlah mengapa saat itu Lola tak mampu menolak dan bahkan menikmati genggaman tangan Anton. Sekejap kemudian bayangan Aryo melintas di benaknya. Seketika itu juga Lola menarik tangannya dari genggaman Anton, "Maaf Anton, aku sudah menjadi milik orang lain. Maafkan aku, aku harus buru-buru balik ke kantor. Jam istirahat lunch-ku sudah habis." Anton hanya tersenyum dan bias sesal terlihat di air wajahnya, "Maafkan aku Lo, aku tak bermaksud demikian. Namun bolehkah aku punya nomor teleponmu. Aku tak ingin persahabatan kita kandas sampai di sini." Lola bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Keraguan di hatinya muncul dan dia tak tega untuk menyakiti orang sebaik Anton. Apakah ini berarti bahwa sesungguhnya denting cinta masih saja bernyanyi di dalam hatinya?

Sweat and Sweet

Early March 2003 was the onset of my life history when I came alone to the 'grey' city of Melbourne. I came for study at Monash University under the sponsorship of Australia-Asia Award. I thought my feelings were just the same with these of other international students when they embarked at the first time on such a lonely place. I'd never dreamt to be a 'Melbournian'. Adjusting myself to the exotic weather of Melbourne was little bit thorny, as I just realised that this city is indeed a heaven with four seasons in one day. Melbourne was unlike Jakarta whose weather is warm and humid all the times. Yet, sooner I began to acclimatise myself to such a new environment and enjoyed often drastic climate changes. Natural climate was not that big deal as my body can easily fiddle with such a unique climate. Nonetheless, heaps of pitfalls were waiting for me at this fortress of intellectual training. In this short essay I would like to share my happiness and sorrow as an International student. So that why I put title “sweat and sweet being an international student” for this article.

It was my second stay in Australia, as in 1999 to 2000 I lived in Adelaide doing my masters at Flinders University under the support of ADS. Living in Melbourne was quite new experience for me. It was then I had to learn to adjust my life with the academic climate at Monash University. In the beginning, I did not know what I should do as a new PhD student at the School of Education. My campus was located in Clayton. On the first week I just wandered and strolled around the campus by my own, tried to familiarise myself with the buildings and facilities. I found it was quite stunning and interesting, since the campus provided whole range of facilities for various students.

Religious facilities are also provided for multi-faith students at the religious centre. I saw a Muslim prayer room at the centre was available for Muslim students. The Beddoe ‘mosque’ that was located in the end north-west of campus was the meeting point for Muslim students. Booklets on Islam and halal food were also available at the administration building; the information was very informative and helpful for me as a new Muslim student. Hence, I did not find any serious problem in conducting my belief and ritual activities.

Being a PhD student, I had to admit that my life activity was considered as a twenty-four hour and seven day activity. I found no holiday at all, as times were so demanding and critical. Clock always ticked endlessly and run so preciously. Thanks to Monash University that provided a 24 hour access for a student like me. There was no word “finish” after seeing my supervisor, as there was always one task after another, headache after headache. For example, after having discussion and receiving my supervisor's feedbacks I had to think of doing another thing. Days were always full of reading and writing. When I was getting stuck and being trapped within the cage of nowhere, I questioned myself as to why my mind just went idle and was empty of creativity. In this condition, I was so gloomy and frustated.

It was often distressed when I had to devour books that full of difficult words and knotty discussion. I know it was due to my shortages and lacks of reading ability. When I was cornered by this reality, I felt so frustrated and poignant. In addition, I felt flummoxed as to the direction of my study. Sometimes I pushed myself to do something even writing a tiny peace of paragraph. But, I plunged myself into a point of darkness when sitting in front of the computer. My mind was lying idle and was not able to capture ideas let alone push them out from the head. In this frustrating situation, I emailed my supervisor about my obscurity in a hope that I could release myself from such a giddy situation. Additionally, meeting with my supervisor was quite impressive. I found the relationships between students and supervisors are no more than an ‘academic-friendship’. Discussion took place in informal way and there was no such an imposing ideas to me from my supervisor. I always found ideas were offered and suggested. The last decision was laid in my mind whether I accepted them or otherwise. Although it was deemed as an ‘academic-friendship’, be punctual and self disciplined was a must if I had to finish on time. Clearly, in such a friendly atmosphere of discussion I felt very much welcome and privileged in this campus. In short, I felt free from daunting burdens for a while.

To lessen the burdens of academic problems I tried to share my difficulties with my friends in the office and heard their experience in handling such problems. I needed to hear other people’s experiences when they ran into academic problems. I believed my problems were just the same as other international students'. Having nice friends was very beneficial and rewarding in terms of building self-esteem and confidence, not to mention forcing myself to practice my conversation skill in a friendly informal discussion. To develop a good friendship, sometimes we went to the cafés within the campus just for having yarn and refreshing mind and enjoying the fresh air.

In terms of writing up my thesis, I found that the more I wrote, the more I did not know; the more I read, the more I felt more stupid. It was like diving in a deep and dark ocean where I had to portray a clear picture of what I was attempting to unravel. Not only did I explore information from various
literatures, but I was also pushed to use my critical capacity in digesting such information. Like many other Asian students, I did not use to criticise and disagree openly against other people’s opinion, particularly those who were considered as knowledgeable people. I considered the authors from whom I borrow their ideas and my supervisor with whom I always discussed on my study as the knowledgeable people that had to be respected. For me, criticising them was seen culturally impolite and ethically unaccepted. I knew it was wrong perspective, and it indeed took times to be critical. I was told that to be critical, one should apply a negative thinking on everything and tried to question all phenomena surrounding ourselves.

Sharing our thoughts can also be carried out in formal forums, such as conferences and seminars. Through the financial support of the University’s travel grant scheme, I was able to attend and present my work at some occasions, such as national conference at the University of Queensland, Indonesian Conference at ANU, Post-Graduate Conference at Curtin University, International Symposium in Jakarta, International conference in Chiang Mai and the like. Monash was so generous in supporting students to disseminate their findings and work to a wider community inside and outside campus. The forums were very useful in building networks of intellectual and having feedbacks and appreciations from various people.

While I was struggling for the thesis writing-up, I suffered from ‘home-sweet-home’ syndrome. Admittedly, the problem encountered was not only stemming from academic arena, but also from the socio-psychological needs. I had to admit that I was often in need to eliminate my loneliness; I did not want to be only confined to my office and working in front of the computer. I needed a social activity to refresh my mind and just to escape for a while from my hurly burly study. Fortunately, the Faculty of Education always organised student trips every semester and informal afternoon tea with other International students every first Wednesday on each month. I considered these activities were a means of student socialisation and building friendships among International students. I still remembered that my first trip was going to the Great Ocean Road. I was very much delighted as this trip was not exclusively for a particular group of International scholarship students or a specific nation. To develop more 'socialisation' atmosphere, actually I need a kind of morning or afternoon tea forum in which students and staff could gather and know each other. Unfortunately, up to the present day, I could hardly recognise the names of the staff although there was a board of photos of the staff members displayed in the faculty’s foyer. Yet, for me it was no more than a gallery of photos, since there was no regular rendezvous for students and staff at this faculty. I only knew the names of those who were friendly in the faculty.

Socially and culturally, Monash University was rich of cultural diversity. Student centre was evidence where food was not dominated by Aussie food. Luckily, I met some Indonesian students and was involved in MIIS (Monash Indonesian Islamic Society) in which I could enjoy my home-country atmosphere, since this organisation invited monthly gathering to have discussion and taste Indonesian food! Fortunately, I also met some Indonesian elders who had been residing in Australia for many years. It was remarkably noticeable that the Indonesian students and the Indonesian permanent residents in Melbourne could assemble and strengthen the sense of Indonesian nationality in Australia. Perwira and Ikawiria were two social organisations in Melbourne for Indonesian people and those who were interested in Indonesia. Westall mosque is Indonesian Muslim venue where Indonesian Muslims find mosque with Indonesian flavour. Spiritual attachment to the home-country is very evident, especially when the most appalling Tsunami disaster hit Aceh. In Melbourne, Indonesians and other communities were hand in hand to collect donations to help the most victimised of Acehnese. To sum up, living in Australia does not mean that we are only busy with academic and campus lives, but life should not ignore our social activities either in campus or outside campus.

Thursday, May 04, 2006

Pilihan Hidup

“Coba pikirkan dulu Min sebelum kamu memutuskan jadi istri Kang Diran!”. Yu Kasmi terus saja mengulang kata-kata itu kepada Minah, anak gadisnya semata wayang yang agaknya lagi dimabuk cinta dengan seorang duda beranak dua.”Tidak Mbok, saya sudah berfikir terus tiap hari dan mempertimbangkannya masak-masak. Bahkan Minah pun terus berdo’a tiap malam Mbok. Namun, hasilnya tetap saja yang ada dalam lintasan pikiran Minah Cuma Kang Diran”. Minah meyakinkan ibunya sambil terus menyisir rambut panjangnya yang terurai. Ia lakukan itu di depan kaca lemari pakaian yang sudah buram berdebu.

Mbok Kasmi hanya menelan ludah dan menarik nafas panjang mendengar keyakinan Minah yang tak pernah surut. Sambil meninggalkan kamar anaknya, Mbok Kasmi bertanya lagi, “Tapi Mbok tidak yakin kalau kamu bakalan bisa menerima anak-anak Diran yang cacat itu Min…”.
“Tenang saja Mbok, yang namanya jodoh itu sudah diatur oleh Gusti Allah dan kenyataannya Minah selama ini bisa menerima mereka dan ngemong mereka”.
“Contohnya ketika kami jalan-jalan ke pantai Purwohamba, anak-anak langsung akrab dengan saya Mbok…”
“Saya senang dan ikhlash Mbok meskipun Tono cacat kaki dan adiknya, Tini tunanetra”.

Mbok Kasmi tak mau lagi mendengar kata-kata Minah yang menurutnya sudah tak mungkin lagi dirubah. Mbok Kasmi cuma khawatir bahwa Minah akan menyesal dikemudian hari. Minah anak pendiam dan tak pernah sekalipun berpacaran dan mengenal dekat seorang laki-laki. Berkali-kali tak terhitung sudah berapa banyak pemuda di desanya maupun tetangga desanya mencoba mendekatinya, Minah selalu saja menolak. Kepada Mbok Kasmi, Minah menyatakan bahwa semua pemuda yang berusaha mendekatinya tak ada yang sesuai dengan seleranya. Ada-ada saja alasan Minah. Misalnya, ketika Jalal anak Pak Karso, pengusaha batu bata di desanya berusaha mendekatinya, Minah malah berkata bahwa Jalal terlalu gendut dan pendek dan setiap bertandang ke rumah Minah, Jalal selalu saja memamerkan kekayaan ayahnya.

Tempo hari ada lagi Pujo, seorang pemuda desa tetangga yang bekerja di penggilingan beras Haji Ahmad. Pujo berusaha mencuri perhatiannya. Setiap saat Mbok Kasmi pulang dari pasar dan melewati jalan aspal di samping penggilingan beras, tanpa malu-malu Pujo menitipkan salamnya ke Mbok Kasmi untuk Minah.
“Mbok, baru pulang nih”, seru pujo ketika melihat Mbok Kasmi lewat depan tempat penggilingan. Saat itu Pujo sedang meyeruput kopi di warung kecil di pinggir pagar penggilingan. Ia memaksa diri keluar dari warung menyapa Mbok Kasmi.“Jangan lupa Mbok, sampaikan salam saya kepada Minah yah”.
“Iya, nanti Mbok sampaikan. Kenapa kamu tidak mau mampir saja langsung ke rumah?”.
“Wah… nanti saja Mbok kalau ada waktu senggang”, jawab Pujo sekenanya. Padahal dia merasa kurang percaya diri untuk mendekati Minah.

Ketika salam Pujo disampaikan kepada Minah, Minah Cuma menjawab, “Alah Mbok…Mbok… wong anak ingusan kok yah diladeni”. “Lagian untuk apa sih Mbok jadi tukang pos yang nggak mutu itu. Minah masih ingin sendiri kok, peduli apa dengan selentingan banyak orang mengenai Minah”.Mbok Kasmi Cuma mengurut dada mendengar respon Minah yang terus saja memandang negatif setiap pemuda yang mencoba mendekatinya. Ada saja kekurangan setiap pemuda yang berusaha menaruh hati kepadanya.
“Minah… si Mbok cuma tidak mau kalau semua orang pada ngerasani kita. Sudah tidak pantas kalau gadis seusiamu itu malah belum omah-omah!”. “Sudah begitu kamu itu sok pilah-pilih kayak Roro Jonggrang saja!”.“Ati-ati Minah, kalau banyak memilih ntar kamu malah dapat yang tidak mutu!”. Cerocosan Mbok Kasmi seakan memenuhi ruang tamu rumah kecil itu. “Duda juga nggak apa-apa Mbok asalkan sayang dan suka sama Minah” .“Hush!! Kamu ngomong apa sih. Kalau ada dewa lewat bisa kuwalat kamu!”, gerutu Mbok Kasmi. Minah cuma diam cengengesan.

*****
Seusai shalat Shubuh, Mbok Kasmi berpesan kepada Minah kalau ia akan pergi ke rumah Haji Syamsu untuk mengikuti pengajian bakda Shubuh. Lumayan dalam kegiatan itu Mbok Kasmi bisa bertemu dengan kawan-kawan lamanya. Tidak hanya itu dia merasa bahwa kehidupannya semakin bermakna jika mendengarkan ceramah-ceramah Haji Syamsu mengenai hakikat hidup.Mbok Kasmi masih ingat ketika Haji Syamsu berpesan, “Ibu-ibu dan bapak-bapak, ketahuilah bahwa hidup ini cuma mampir ngombe saja. Jadi kalau mampir mestinya harus balik ke tempat asal kita. Kita tidak mungkin ngendon lama-lama di rumah orang yang kita ampiri itu. Makanya tempat kembali kita itu yah cuma ke Gusti Allah…, rumah keabadian”. Mbok Kasmi masih ingat nasihat Haji Syamsu, ” Sejatinya manusia hidup itu harus selalu menelisik setiap dosa yang dilakukannya, karena nek besok mati yang bakal menjadi bekal kita Cuma amal shalih saja, nggih nopo mboteennnn?…”.

Ketika ingat wejangan Pak Haji, Mbok Kasmi jadi teringat Kardi, suaminya, yang meninggal akibat hanyut ketika menggali pasir di sungai Gung. Saat itu Kardi sendirian mengeruk pasir di pinggiran sungai dengan cangkul dan sekop. Ntah bagaimana ceritanya tiba-tiba air bah datang menggulung dan menelan Kardi. Kardi berusaha menyelematkan diri, namun usahanya gagal. Jenasahnya baru ditemukan keesokan harinya mengambang di pintu air di ujung desa di sebelah utara. Saat itu Minah baru berusia empat tahun. Minah belum tahu apa-apa mengenai kesedihan ditinggal ayah. Ia tidak tahu makna kehadiran seorang ayah. Sepeninggal suaminya, Mbok Kasmi berniat bahwa dia tidak akan kawin lagi. Tekadnya cuma satu, yakni ingin membesarkan dan mendidik Minah. Meski dimaki-maki banyak orang kalau menjanda itu banyak godaan dan fitnahnya, Minah bersitegang bahwa cinta pertamanya adalah Kardi dan tak akan menikah lagi. Padahal saat itu Mbok Kasmi masih tergolong muda, dua puluh lima tahun!. Ia bertekad untuk menjadi single parent di desanya. Semenjak itu ia bekerja serabutan untuk menghidupi diri dan anak gadis semata wayangnya. Pekerjaan yang dia lakukan hingga saat ini adalah tukang cuci dan seterika.

Lamunan itu seketika buyar ketika tiba-tiba dia mendengar Bu Tumini memanggil dirinya untuk pergi bareng ke rumah Haji Syamsu, "Kasmi... hayoo berangkat wis awan ntar ketelat".“Eh Bu Tum, sebentar yah. Masuk dulu yah, saya mau pesen sama Minah”.“Min, tolong yah pakaian yang sudah dilipat itu diantarkan ke Bu RT yah. Mungkin Mbok pulang agak terlambat karena harus mengantar baju ini ke rumah Bu Yati.”“Ya Mbok”, sahut Minah sambil keluar dari dapur.“Tapi yang mana Mbok?. Baju yang sudah dilipat itu banyak. Yang warna apa?”.“Itu lho baju kurung warna merah. Katanya mau dipakai besok pada acara resepsi keponakannya di kota.”

******
Jam sembilan pagi. Sehabis bersih-bersih rumah, Minah sudah sampai di rumah bu RT untuk mengantarkan baju tersebut. Rumah tipe 36 yang halamannya ditumbuhi pohon jambu air serta pohon mangga Indramayu serasa rindang. Di depan rumah bu RT bersandar sebuah sepeda motor Honda keluaran terbaru warna hitam. Pintu rumah terlihat terbuka. Agaknya Pak RT sedang menerima tamu. Minah ragu sejenak untuk masuk. Ketika dia terpaku di depan rumah tersebut, bu RT melihatnya.“ Min…. jangan terbengong-bengong di luar Min! Masuk hayo masuk.”
“Nggak ada siapa-siapa kok hayo.”
Minah menengok ke arah suara yang memanggilnya itu. Di lihatnya bu RT dengan baju daster warna hijau. Bu RT wanita separuh baya namun gurat kecantikan masih saja nampak dari wajahnya. Wanita itu menghampiri Minah.“Ah, di sini saja Bu, lagian Pak RT kan lagi ada tamu”, Kata Minah sambil menunjuk sepeda motor itu“.
Oh… itu. Itu punya si Diran, adik iparku. Kebetulan dia mampir mumpung hari Minggu.”
“Udah lah mampir saja dulu. Ibu lagi nggoreng pisang. Sekalian saja nyicipi dan bawa beberapa bungkus untuk si Mbok yah.” Ujar bu RT sambil tersenyum dan menggamit lengan Minah. Ketika Minah masuk rumah itu, Bu RT memperkenalkan Minah dengan Diran yang belakangan diketahui berstatus duda beranak dua.

Ntah mengapa, ketika Minah berjabat tangan dengan Diran, ada perasaan lain yang menjalari tubuh Minah. Tatapan teduh mata Diran membuat hati Minah damai. Pada awalnya Minah merasa biasa saja. Namun ketika Diran terus saja bertandang ke rumah Minah, Minah mulai iba dan simpatik akan kesungguhan Diran.Kalau mau jujur sebenarnya Minah juga merasa heran mengapa dia bisa jatuh hati pada pria yang dua puluh tahun lebih tua darinya. Tidak hanya itu, Minah juga merasa bisa dekat dengan anak-anak Kang Diran, Tono dan Tini. Meski keduanya dilahirkan dalam keadaan tidak normal, Minah merasa bahwa tugasnya menjadi ibu akan lebih bermakna buat keduanya. Tono menderita lumpuh semenjak balita. Waktu itu kata Kang Diran, Tono awalnya menderita sakit panas dan sudah dibawa ke dokter dan orang pintar. Namun entahlah lama-lama kaki Tono semakin layu dan mengecil. Sekarang anak itu sudah tujuh tahun dan harus bergantung pada kursi roda. Sedangkan Tini, anak kedua Diran, semenjak lahir sudah tidak bisa melihat. Bola matanya tidak berfungsi. Semenjak kematian ibu mereka, Diran harus menghidupi kedua anaknya. Pekerjaannya sebagai guru SD inpres memang tak seberapa. Namun dia juga bekerja sambilan sebagai peternak ayam kampung di rumahnya.

Kalau dibanding-bandingkan dengan para pemuda yang naksir dirinya, Diran sebenarnya tidak tampan-tampan amat. Rambutnya sebagian sudah ditumbuhi uban. Kulitnya pun agak gelap dengan tubuh yang agak gemuk. Hidungnya tidak mancung dan tinggi badannya pun sedang-sedang saja layaknya rata-rata laki-laki di desanya. Entahlah, Minah tak habis pikir dengan perasaannya itu. Kenapa dia bisa jatuh hati dan simpatik terhadap Diran? Apa ini yang namanya jodoh? Atau mungkin inilah yang disebut pilihan hidup. Bagi Minah apapun yang terjadi kelak dalam rumah tangganya adalah konsekuensi dari pilihannya. Dia berjanji untuk tidak menyesali pilihannya itu. Yang terpenting hidup berumahtangga harus dilandasi dengan cinta. Yang terpenting baginya adalah mengasihi anak-anak Diran. Minah telah mantap dengan pilihan hidupnya, meski Mbok Kasmi mau bilang apa saja.

Di kamarnya, Mbok Kasmi sedang meratap sehabis shalat Maghrib. Mukenanya yang sudah pudar warna putihnya membalut semua tubuh tuanya. Tangannya ditengadahkan ke langit-langit rumahnya. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang bergurat menunjukkan pahit-getirnya hidup yang telah ia lalui. Dia bermunajat kepada Tuhannya, “Duh Gusti Allah, andaikata pancen Diran adalah yang terbaik buat Minah, maka berilah kemuliaan dan kebahagiaan ya Allah. Jangan bebani Minah dengan beban di luar kemampuannya…”. Mbok Kasmi mengadukan perasaannya kepada Sang Khaliq atas pilihan hidup anak semata wayangnya.

Glossary:

Kuwalat (jw): akibat buruk; cengengesan (jw): tersenyum-senyum; nek (jw): kalau; ngombe (jw): minum; ngendon (jw): menginap; wis awan (jw); sudah siang; ati-ati (jw): hati-hati; omah-omah (berumah tangga); nggih nopo mboten (jw): ya apa tidak; pancen (jw): harus.