Wednesday, January 16, 2008

Masjid kaum pendatang (2)

Sejak saat itu masjid baru dinamakan "Masjid Lis Saajiddin". Warga mempercayakan perawatan masjid kepada Rustam, seorang pemuda desa yang pemalu. Warga hanya berfikir daripada Rustam tak memiliki pekerjaan, lebih baik dia disuruh kerja di masjid sebagai marbout. Rustam yang lugu dengan penuh dedikasi tinggi menjalankan banyak tugas. Mulai dari membersihkan halaman masjid, mengepel lantai masjid, hingga melantunkan azan dalam lima kali shalat. Rustam dibayar atas sumbangan umat dan tambahan beberapa lembar rupiah dari Pak Maryono.

Tahun berganti tahun. tak terasa masjid Lis Saajidiin telah berusia lima tahun. Untuk sementara yang sering didaulat menjadi imam adalah Pak Maryono. Semua warga tahu meskipun Pak Maryono itu memiliki semangat menggebu tentang Islam, namun Pak Maryono hanya hafal dua surat pendek, yakni Surah Al-Naas dan Surah al-Ikhlash. Setiap kali dia harus berdiri di depan, maka semua jamaah langsung bisa menebak bahwa sehabis al-Fatihah di rakaat pertama dan kedua adalah Qulnas dan Qullah. Pada awalnya warga merasa bosan dengan bacaan Pak Maryono yang terus meneruskan melantunkan dua ayat andalannya.

Beberapa orang warga sebenarnya sudah pernah usul kepada pengurus masjid agar Pak Maryono diganti dengan yang lainnya mengingat bacaannya tak pernah berlari dari dua surat tersebut. Namun karena ewuh-pakewuh dengan jasa Pak Maryono, maka para warga pun sudah merasa nyaman dengan tradisi shalat yang diimami oleh Pak Maryono alias Mas Raden itu. Kegiatan masjid pun semarak karena Pak Maryono mengundang beberapa anak muda lulusan Aliyah untuk menjadi pengajar di masjid tersebut. Seluruh biaya Taman Pendidikan Al-Qur'an ditangani oleh Pak Maryono. Sering kali Pak Maryono ikut nimbrung melihat-lihat anak-anak kecil di desanya berduyun-duyun memeluk al-Qur'an dan buku Iqra untuk belajar ngaji di masjid yang pernah dirintisnya itu. Usianya semakin tua. Ada sebersit penyesalan dalam hati Pak Maryono, yakni dia tak pernah tertarik untuk mengaji ketika dia masih berusia muda. Usia mudanya hanya dipergunakan untuk mengurusi ternak dan kebun. Sehingga, Pak Maryono buta al-Qur'an dan hanya ingat dua surat tersebut. Sesungguhnya dia malu, namun semua penduduk desa memintanya untuk menjadi imam shalat wajib. Kehadiran Pak Maryono dirasakan sebagai pendorong semangat anak-anak desa tersebut. Demikian pula para ustadz-ustadzah yang mengajarnya pun merasa termotivasi dengan kehadiran Pak Maryono di setiap sore selepas Ashar. Tidak hanya TPA saja masjid itu semarak, Pak Maryono juga mengusulkan agar masjid dijadikan tempat latihan kesenian tradisional rebana, pusat tahlilan, pusat zikir, dan pusat muara spiritual.

****

Sementara itu, anak gadis Pak Maryono yang bernama Sutinah sudah berusia 20 tahun; usia yang sudah matang dan siap untuk menikah. Seorang pemuda kota menjadi pilihan Sutinah. Sutinah pernah mengungakpkan perasaannya kepada ayahnya bahwa Jalal adalah kawan sekelasnya. Karena tiap hari bertemu, dua orang muda ini akhirnya mengalami proses "cilok" alias cinta lokasi. Kedua sejoli tersebut saling jatuh cinta. Agar proses pernikahan tidak terlalu lama sekaligus menghindarkan mereka dari godaan dosa, maka Jalal pun memutuskan untuk melamar Sutinah. Jalal memberanikan diri bertandang ke rumah Sutinah. Pak Maryono sangat suka kepada Jalal yang dilihatnya sebagai pemuda cerdas dan memiliki ilmu agama yang bagus. Dia membayangkan andaikata masjid tersebut dipimpin oleh Jalal yang berpendidikan, maka masjid Lis Saajidiin akan bagus.

Hari yang ditunggu-tunggu Jalal dan Sutinah pun datang. Prosesi ijab-kabulnya diadakan di dalam masjid Lis Saajidiin. Semua warga desa datang untuk menyaksikan peristiwa penting itu. Bahkan ada yang berbisik-bisik bahwa acara nikah tersebut akan dibarengi dengan isu suksesi! Suksesi kepemimpinan masjid yang akan dilimpahkan kepada menantu Pak Maryono. Dalam sambutannya yang santun Pak Maryono berkata, "Bapak-bapak dan ibu-ibu, terima kasih bahwa bapak-bapak dan ibu-ibu sudi hadir dalam acara ini. Yang jelas saya memohon do'a restu bagi anak saya Sutinah dan menantu saya Jalal. Sekalian saya ingin berpesan agar kelak Jalal mau ikut mengurus masjid. Saya paham bahwa Sampean-Sampean itu sebenarnya sudah bosan banget mendengarkan suara saya yang cuma baca Qulnas dan Qullah. Qulnas-Qullah, bakul nanas kecebur kulah." Mendengar guyonan Pak Marsono itu semua yang mendengarnya ikut tertawa lepas.

Yah, ada harapan besar di hati para warga agar yang muda harus maju. Suksesi itu pun terjadi. Pak Maryono harus menjadi makmum, dan menantunya, Jalal, menjadi imam. Bacaan Jalal memang lebih variatif. Sering kali Jalal melantunkan ayat-ayat yang panjang. Hal ini membuat banyak warga desa pegal-pegal ketika harus mendengarkan bacaan panjang tersebut. Banyak yang terkejut dan menjadi tak ikhlash. Belum lagi banyak manula yang sakit encok ketika harus rukuk dan sujud berlama-lama. Jalal bukan berarti tidak tahu kondisi makmumnya tersebut. Jalal hanya ingin memberikan "kultur baru" yang lain daripada yang dulu. Menurutnya, ayat panjang adalah bentuk keseriusan dan keikhlasan bersujud di hadapan Allah. Tidak hanya bacaan Jalal yang panjang-panjang, dalam setiap ceramahnya Jalal selalu berapi-api untuk menyeru jamaah agar meninggalkan tradisi lama yang tidak baik. Ketika dia diminta untuk khutbah Jum'at, dia menyatakan bahwa masjid tidak boleh lagi dijadikan tempat nyanyi-nyanyi. Kalau mau nyanyi jangan di masjid, tapi di luar masjid. Oleh karena itu seni rebana harus pindah tempat latihannya, yakni di rumah Pak Didu. Jalal menegaskan bahwa jangan sekali-kali melakukan amalan yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

"Saudara-saudara, rasul mengatakan bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi. Barang siapa melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasul SAW adalah kesesatan yang bisa mengantar kita ke neraka! Oleh karena itu saya ingin agar masjid ini steril dari ritual-ritual yang tidak ada tuntunannya!" Jalal berapi-api ketika menyampaikan hal ini. Semua hadirin tercekat, tak ada yang bisa membantah Jalal karena setiap kali berkata, Jalal memberi ultimatum neraka dan murka Allah yang tidak menuruti perinta Rasul-Nya.

Dalam satu bulan kepemimpinan Jalal, jumlah jama'ah yang hadir ke masjid semakin berkurang. Anak-anak tidak lagi mau belajar di dalam masjid karena takut dengan gertak Jalal. Ustadz dan Ustadzah yang biasa mengajar pun diceramahi habis-habisan oleh Jalal agar berpakaian yang sesuai dengan model Nabi dan istri-istri Nabi. Mereka jadi tidak enak untuk datang mengajar. Walhasil, masjid pun semakin sepi. Dalam pikiran Jalal, "Ah, mungkin inilah perjuangan untuk menegakkan kebenaran. Pasti ada tantangannya. Rasul saja ditantang oleh umatnya"

Jalal tidak tahu bahwa para penduduk desa lebih suka tinggal di rumah menikmati teve dan radio dibanding pergi berlama-lama di masjid. Anak-anak kemudian tak mau lagi ngaji dan lebih suka menonton siaran teve bersama orang tua mereka. Mereka tak mau lagi pergi ke masjid. Rustam yang biasa menjadi marbout masjid pun sudah tak betah. Model azan yang dia lantunkan diprotes habis-habisan oleh Jalal. Bahkan Jalal menegaskan kalau azan harus begini dan begitu mengikuti adabnya Rasul. Lagu azan tak boleh macam-macam kayak lagu Inul si Ratu Ngebor. Azan tak boleh memakai loud-speaker. Padahal bagi Rustam, memerkan kebanggaannya bisa azan kepada seluruh warga desa adalah kesenangan tersendiri. Suara Rustam memang khas dan tidak sebanding dengan suara Mu'ammar, ZA, qari Internasional milik Indonesia.

Masjid Lis Saajidiin itu jadi semakin sepi. Padahal di setiap malam Jum'at selepas Maghrib, suara rebana yang dipukul sangat bertalu dengan iringan shalawat Nabi dari kitab Sumtud Durar, Dibay, dan al-Barzanjy mengalun menembus malam pekat yang dingin semilir di desa itu. Suara riuh-rendah shalawat Nabi mengalun syahdu memecah kelam senja. Suara mereka terdengar membahana dengan bantuan load-speaker hingga menerabas batas-batas desa. Sekarang lantunan itu sudah tak ada lagi. Semua anggota musik rebana lebih suka tidur sore dan berpikir untuk pergi ke sawah di ambang fajar daripada harus dimaki-maki Jalal. Masjid Lis Saajidiin semakin sepi dan berdebu. Kaum pendatang telah merubah masjid menjadi seonggok bangunan tanpa jiwa.

Melbourne, 17/01/2008

No comments: