Tuesday, January 15, 2008

Masjid kaum pendatang (1)


"Kita harus punya masjid!" demikian seru salah seorang perempuan berkerudung biru dalam kerumunan manusia yang memenuhi ruang tamu Pak Didu.
Seorang laki-laki paruh baya dengan peci hitam kusam baju cokelat berlengan pendek juga memberanikan diri untuk bicara, "Betul, kita perlu masjid untuk menjaga akidah anak-anak kita. Jangan sampai mereka kehilangan Islam. Siapa lagi yang bakal mendoakan kita ketika kita sudah digulung kafan?".
Para peserta pertemuan itu serempak memberi suara koor, "Betulll...!!".

Pak Didu sebagai tuan rumah pertemuan tersebut mencoba memberi pencerahan, "Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, kita memang sangat membutuhkan sebuah tempat dimana anak-anak kita dididik untuk jadi manusia yang beriman."
Sambil memperbaiki kerah baju batiknya, Pak Didu melanjutkan, "Kita wajib memiliki tempat yang mendukung rasa keagamaan kita dan anak-anak kita!"
"Bukankah sudah sewajarnya kita prihatin karena anak-anak kita itu sudah tak lagi memiliki unggah-ungguh kepada orang tua. Lagaknya sudah mirip orang bule dan para pemain sinteron di teve! Masjid adalah solusi!" demikian Pak Didu berbicara berapi-api di hadapan sekitar 15 orang undangan.

Suasana hening sejenak karena semua orang terpekur dengan pikiran masing-masing mengenai masa depan generasi mudai Islami itu. Dalam keterpekuran itu, tiba-tiba datang suara salam yang penuh wibawa.

"Assalamu 'alaikum saudara-saudara." Suara berat itu tiba-tiba memecah kesunyian ruang tamu itu. Warga mengenal suara itu sebagai suara Pak Maryono yang biasa dipanggil Mas Raden. Yah, Mas Raden baru datang. Laki-laki paruh baya dengan kumis tipis rapi dan badan agak gemuk. Warna kulitnya sawo matang. Mas Raden melangkah masuk ke dalam ruangan itu sambil menebar senyum ramah. Roman mukanya cerah dan bersahaja menandakan ketenangan hidup dan kebersahajaan. Maklum dia adalah orang penting dan kaya di desa terpencil itu. Semua petinggi desa menaruh hormat kepada Mas Raden.

Melihat kedatangan Mas Raden, Pak Didu pun berdiri sambil menjabat tangan Mas Raden erat-erat. "Wah, Mas Raden. Silahkan-silahkan Mas," kata Pak Didu dengan ramah mempersilahkan Pak Maryono duduk di sampingnya.
"Silahkan Mas Raden untuk menyampaikan usulan Mas Raden mengenai pentingnya masjid itu," Pak Didu mempersilahkan sambil menyodorkan jempolnya kepada Pak Maryono.
"Terima kasih Mas Didu. Saudara-saudara, jaman sudah semakin berubah. Jaman dulu dengan sekarang ini berbeda. Kalau dulu kita masih melihat orang tua kita sebagai contoh, namun sekarang, anak-anak lebih suka lihat contoh di tipi atau di bioskop," Pak Maryono mengawali pidatonya.

"Tenang saja saudara-saudara masjid itu tak akan lama berdiri karena saya punya banyak kawan di pusat dan di daerah yang mau membantu. Akan saya hubungi mereka, termasuk kenalan dekat saya Pak Bupati. Masjid itu akan berdiri di tengah-tengah kampung kita. Masjid itu akan berdiri di atas tanah saya. Saya akan sumbangkan tanah saya tersebut untuk masjid," Mas Raden meyakinkan para tamu.
Demi mendengar pernyataan Pak Maryono tersebut, semua hadirin bertepuk tangan. Semua tamu seolah merasakan kebahagiaan yang luar biasa. semua yang hadir serentak berdecak, "Alhamdulillaaah!!"

****

Singkat cerita atas kegigihan Pak Maryono melobi para pembesar-pembesar dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional, berdirilah masjid itu. Tak sedikit pengorbanan warga desa yang dibuktikan melalui jadwal giliran menyediakan makan siang dan cemilan berikut rokok kretek merek terkenal. Warga desa memang rindu dengan sebuah masjid. Dalam waktu tak begitu lama, akhirnya sebuah masjid yang tak begitu megah berdiri. Lantainya hanya kramik murahan berwarna putih bersih. Namun kebahagiaan warga desa tak dapat dibandingkan dengan munculnya masjid di tengah-tengah desa tersebut. Mereka berharap bahwa anak-anak desa tidak lagi suka nonton teve dan bertingkah kurang ajar kepada orang tua mereka. Masjid diharapkan menjadi tulang punggung yang menopang ketenangan batin dan kedewasaan emosional. Masjid harus bisa menjadi the hall of the community and the hall for the community, sebagai bangunan yang merepresentasikan kebudayaan dan semangat hidup masyarakat. Masjid bisa menjadi pusat peradaban ala masa Rasulullah SAW.

Malam peresmian masjid dipilih bertepatan dengan malam peringatan Nuzulul Qur'an di bulan Ramadhan. Saat itu beberapa pemuka desa diundang termasuk Pak Camat dan Pak Bupati. kedua pembesar daerah itu hadir karena kenalan baik Pak Maryono. Acara Nuzulul Qur'an itu meriah, karena semua warga desa shalat di masjid baru itu. Seorang muballigh kondang tingkat kabupaten diundang bahkan didaulat untuk memberi nama bagi masjid baru itu. Si muballigh yang dikenal luas dengan nama Kyai Khojin dipersilahkan naik panggung untuk memberikan ceramah. Saat itu warga pun harus bersyukur bahwa sang kyai memang tak pernah minta bayaran dan memasang tarif. Bahkan Kyai Khojin bilang kalau ceramah untuk warga desa tersebut harus gratis.

Salah satu penggal kalimatnya adalah, "Saudara-saudara kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah. Masjid merupakan rumah Allah dimana nama Allah disebut dan diagungkan. Namun yang lebih penting adalah bagaimana masjid bisa menjadi jiwa dari sampean-sampean dan kita semuanya! Bila kita bawa jiwa masjid, maka yang ada adalah jiwa yang tunduk dan patuh; jiwa yang selalu mengagungkan Zat Allah.; jiwa yang tidak merasa besar karena masjid itu panggonane wong sujud!"

Kyai Khojin melanjutkan, "Oleh karena itu, saudara-saudara, masjid ini saya beri nama masjid "Lis Saajidiin". Yah, masjid "Lis Saajidiin" yang artinya masjid bagi hamba Allah yang bersujud. Sadara-saudaraku jagalah masjid ini. Karena masjid ini adalah dari kita, oleh kita, dan untuk kita semua." Kyai Khojin berharap bahwa masjid tersebut menjadi tempat bagi sesiapa saja yang ingin bersujud di hadapan Allah SWT. Syukur-syukur preman-preman desa yang bisa nongkrong di pengkolan mulut desa mau bertandang ke masjid. Justru tantangan dakwah di desa tersebut adalah MENGISLAMKAN ORANG ISLAM.


**** bersambung

Melbourne, 17/01/2008

2 comments:

Anonymous said...

Mbah, sama ga orangnya Pak Dudi dengan Pak Didu?

Mbah Parto said...

Terima kasih Mama Cody,

Sudah saya koreksi nama yang bsersangkutan. Yang benar adalah Pak Didu. Thanks untuk koreksiannya.

mp