Monday, January 07, 2008

Sakit dan hujatan


Dalam sebuah haditsnya Rasul pernah mengatakan, "Kasihilah orang yang mulia kemudian jatuh terhina, orang yang kaya kemudian jatuh miskin, dan orang pandai yang ditindas orang bodoh." Agaknya dalam beberapa hari ini, rakyat Indonesia sedang menyaksikan realita mantan orang nomor satu Indonesia yang sedang dirawat di rumah sakit Pertamina. Pak Harto (86 tahun) yang pernah berkuasa selama 32 tahun selalu saja keluar-masuk rumah sakit karena sakitnya.

Fenomena yang sangat ironis sebagai bentuk "memori pendek" masyarakat Indonesia adalah betapa sering kita menghujat seseorang kemudian mengelu-elukannya atau sebaliknya dengan begitu mudah. Kita bagai buih di atas air laut yang berjumlah banyak namun tak memiliki bobot apapun. Kita bagai buih yang mudah terombang-ambing oleh angin kepentingan. Kita sering terperangkap pada masa lalu yang menyakitkan dan tak mau beranjak untuk menggapai masa depan yang lebih menjanjikan. Hal ini bukan berarti kita harus melupakan kesalahan-kesalahan masa lalu. Justru kita harus mengambil segala pelajaran yang berharga dari masa lalu itu. Pak Harto adalah masa lalu kita dan dia telah berbuat banyak untuk bangsa ini. Terlalu naif kalau hanya melihat sisi buruk Pak Harto dan tak melihat sisi baik beliau.

Bukankah umat Islam banyak diuntungkan oleh kebijakan beliau ketika berkuasa? Berdirinya ICMI, pengesahan Undang-Undang Perkawinan, pendirian yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, dan dukungan Suharto agar penyebaran agama tidak ditujukan bagi mereka yang sudah memiliki agama. Hal ini bisa dilihat pada kutipan pidatonya pada tanggal 30 Nopember 1967: "Akan tetapi, pemerintah wajib prihatin, apabila penyebaran agama itu semata-mata ditujukan untuk memperbanyak pengikut, lebih-lebih apabila cara-cara penyebarannya menimbulkan kesan bagi masyarakat pemeluk agama yang lain, seolah-olah ditujukan kepada orang-orang yang telah memeluk agama tersebut..." (Mencari Modus Vivendi Antar Ummat Beragama di Indonesia, DDII, 2006).

Pak Harto telah mundur dan menjadi pesakitan atas kesalahannya sendiri. Mungkin beliau telah menemukan cita-citanya untuk "lengser keprabon madeg pandhita". Hidupnya mungkin diisi banyak renungan dan penyesalahan. Oleh karenanya kita pun harus arif memandang beliau sebagai sosok yang juga memiliki jasa bagi negeri ini. Indonesia harus bisa beranjak dan melangkah menerabas berbagai rintangan di depan. Jadikan masa lalunya sebagai pengalaman berharga agar tak terperosok ke dalam lobang yang sama. Tegakkan hukum dan jadikan hukum sebagai mata pisau yang siap memenggal sesiapapun yang bersalah. Bekutat pada masalah yang tak ada penyelesaiannya malah membuat kita berhenti pada "point of nowhere".

Melbourne, 7 Januari 2008

No comments: